Single Yang Benar, Seperti Apa Ya…

July 12th, 2007 by ritafull

                                           

                                           

                                          

                                          

                                           
Single Yang Benar, Seperti Apa Ya…  
Ok,
Anda single. Ini pilihan hidup Anda, atau memang mau tidak mau harus
anda hadapi sekarang. Apapun alasannya, Anda harus menjalaninya dengan
benar!

Saya
percaya bahwa kunci terpenting untuk sukses dalam menjalani hidup
sebagai seorang single yang sukses di dunia milenium ini ialah dengan
memiliki hubungan pribadi yang intim dengan pencipta langit dan bumi.
Keuntungannya sangatlah banyak. Pertama, kitab suci yang Anda percaya
akan menjadi pegangan hidup Anda yang utama. Didalamnya Anda akan
menemukan begitu banyak pedoman hidup praktis yang akan membantu Anda
membuat berbagai keputusan dalam dunia single "yang penuh dilema" ini.
Bagaimana hidup kudus dan menahan diri dari godaan seksual, bagaimana
mengatur keuangan, bagaimana bersikap, bagaimana berpikir, mengetahui
kebenaran tentang seorang single, dan bagaimana untuk tetap bahagia dan
sukacita.

Jangan bilang bahwa Anda tidak membutuhkannya. Di
Amerika saja, dari 79,5 juta single, sebagian besar hidup dalam
perzinahan dan gaya hidup seksual yang tidak sehat seperti homoseksual
atau kelainan yang lain. Banyak juga dari mereka yang berada pada taraf
frustasi, tidak bisa menerima diri dan tidak bisa menerima orang lain.
Dan di seluruh sudut dunia ini, tidak akan ada yang bisa memberi
jawaban dan solusi lebih tepat mengenai masalah-masalah itu
dibandingkan dengan Tuhan dan Kitab Suci.

Didalam Kitab Suci,
ada pula janji yang disediakan untuk single seperti Anda. Dia tidak
menutup mata mengenai situasi Anda sekarang, dan Dia tahu
rancangan-rancangan apa yang ada padaNya mengenai Anda. Dia tahu persis
kebutuhan Anda yang terutama.

Selanjutnya,
Anda harus sadar betul tentang adanya serangan dari pikiran seorang
single. Biasanya di waktu-waktu yang sibuk, para single bisa melupakan
kesendiriannya. Tapi jika malam tiba, maka ia bisa tiba-tiba dihantui
oleh rasa kesepian yang dalam sehingga tak jarang air matapun mengalir
(karena satu dan beribu alasan). Dengan pikiran yang berkelana tentang
orang lain yang mungkin lebih bahagia karena memiliki pasangan, pikiran
Anda bisa menyerang Anda secara bertubi-tubi.

Jika serangan
pikiran ini datang, jangan terlena melainkan tangkislah dengan ucapan
syukur. Pasalnya, hati yang mengucap syukur selalu tidak bisa
dikalahkan dengan apapun. Ingat apa yang ada pada kita bukan apa yang
tidak ada pada kita. Anda masih punya keluarga, teman, kesehatan,
pekerjaan, nafas kehidupan dan terutama Tuhan. Dengan berpikir
demikian, Anda bisa kembali tersenyum dan kembali beraktifitas.

Tahukah
Anda bahwa selama ini Anda punya Tuhan yang selalu bersedia untuk
menjadi kekasih Anda? Dia tidak pernah berselingkuh atau menyakiti
Anda. Dia sangat manis, baik, pendengar yang baik, sabar, setia, tidak
pernah tidak menepati janji dan selalu mencintai Anda tanpa syarat.
Anda pun bisa memilikinya selama 24 jam satu hari. Dengan konsep yang
indah ini, dijamin Anda akan selalu menikmati kesendirian Anda. Karena
pada dasarnya Anda tidak pernah sendiri.

Kadang
kala kita terlalu sibuk dengan konsep "pasangan" yang beterbangan di
sekitar kita sehingga kita lupa bahwa banyak keuntungan yang bisa di
dapat sebagai single. Jika kita mau belajar untuk selalu berpikir
positif, ada sejuta keuntungan. Antara lain hak bebas, memiliki
pergaulan dan jaringan bebas tanpa dihalangi siapapun dan punya
kesempatan untuk maksimal dalam apapun yang Anda kerjakan karena bisa
fokus. Ingatlah terus keuntungan-keuntungan ini, agar Anda semakin
bangga dan teruntungkan dengan status single Anda.

Ada satu
resep terakhir yang harus Anda pegang sebagai seorang single. Untuk
bisa hidup sukses sebagai single, Anda harus sadar bahwa itu semua
tergantung pilihan Anda sendiri. Henry Wadsworth Longfellow berkata "Ada yang sukses karena sudah ‘takdir’nya. Tapi sebagian besar orang sukses karena mereka bertekad untuk sukses".

Tekad
sangat penting untuk menjadi seorang single yang bisa menjadi teladan
banyak orang serta mencapai tujuan hidup. Selama Anda single,
bermimpilah dan bersukacitalah dalam masa single ini. Jangan biarkan
‘kata orang’, pikiran-pikiran buruk Anda sendiri atau dunia ini
menyesatkan Anda. Jalani single dengan benar!

taken from jawaban.com dengan penampilan yg baru.. ^_^

Yang Jomblo Nggak Boleh Stress

June 26th, 2007 by ritafull

Yang Jomblo Nggak Boleh Stress
JAWABAN.com
- Bulan Juni melompat kedalam kehidupan kami dan membawa setumpuk
undangan pernikahan. Untuk seorang lajang Kristen, kartu cantik yang
tersaji mengundang lebih dari sekedar sebuah acara pesta : pesta pernikahan dan juga pesta mengasihani diri.
Dengan pikiran itu dalam benak kita, bulan Juni adalah bulan yang
sempurna bagi kita, sebagai lajang Kristen, untuk menambahkan sejumlah
iman terhadap kehidupan yang terisi dengan berbagai tekanan.

Sebagai
seorang lajang dengan sejumlah tanggung jawab penuh tekanan, saya tahu
apa artinya “penderitaan akibat stress”. Sebagai seorang penulis,
pembicara, kolumnis, dan penyanyi, saya sesekali merasa begitu
terkoyak-koyak sehingga saya kuatir rambut saya mungkin saja sampai
rontok (Hanya becanda tentunya). Namun serius, saya telah belajar
bagaimana mengelola stress adalah sesuatu yang berat. Tapi saya
berharap untuk membuatnya jadi mudah untuk anda.

Ketika Saya Amat Tertekan

Ketika
saya merasa tertekan, itu karena ketidakseimbangan dalam kehidupan saya
: terlalu banyak hal untuk dilakukan dalam waktu yang sedikit!, Jadi,
sebagai seorang single, saya telah belajar bagaimana menangani diri
saya seperti seorang pasangan akan memperlakukan saya. Sebagai contoh,
banyak pasangan mengatakan satu sama lain ketika “cukup adalah cukup”.
Saya harus memasang batasan saya sendiri. Hal itu mendapatkan seni
tersendiri. Sebagai cara menyelamatkan diri, kita harus mempelajarinya.

Mengenai tanggung Jawab

Seringkali, orang yang telah menikah memakai pernikahan untuk keuntungan mereka. Mereka akan mengatakan : “Saya tidak tahu apakah suami/istri saya ingin saya melakukan hal ini. Saya akan bicara tentang ini padanya”. Kita sebagai seorang lajang Kristen tidak punya keuntungan seperti itu.

Namun,
coba terka? Kita punya keuntungan yang lebih gemuk daripada yang
dilakukan orang yang menikah!. Kita dapat mengatakan, dengan ketulusan
yang besar, bahwa kita sebagai seorang lajang secara istimewa berada
dekat dengan Tuhan dan perlu untuk bicara seputar isu ini dengan Tuhan.
Bagi saya sendiri, itulah kebenaran.

Saya telah mengumpulkan
10 tips untuk lajang yang mengalami stress atau tekanan. Sepanjang
berkaitan masalah itu, saya memformulasi 5 tips untuk lajang yang ingin
menumbuhkan kemampuan melalui pelayanan dimana pada akhirnya akan
menolong mereka menjadi pasangan yang lebih baik.

Apakah
kesendirian meninggalkan masalah kelembutan? Perkataan yang empuk dan
renyah di mulut kita? Jika demikian, ada berita baik : kita dapat
menikmati potongan kehidupan dalam Tuhan sementara kita masih melajang
dan ketika kita menikah.

Segera dapatkan bagian dalam
pelayanan, petualangan, kesenangan yang sederhana, dan kesenangan yang
berpusatkan pada Tuhan dan isilah kehidupan lajang kita dengan bumbu
yang baik! Jangan tunggu bumbu itu ada sementara kita menanti pasangan
itu muncul.

Tips Bagi Lajang untuk Mengikis Stress

1. Menjadi seperti anak-anak!
Berhenti mencoba “belagak dewasa”. Kembali seperti anak-anak – seperti
anak tanpa dosa dan percaya pada Tuhan dengan sepenuh hati. Jika perlu,
ketika tidak ada seorangpun yang memperhatikan, mainkan kembali mainan
anak-anak.

2. Lari ke tempat yang sunyi. Idealnya satu tempat yang dikelilingi dengan keindahan alam. Matikan hp, laptop, iPod dll. Hanya nikmati alam saja.   

3. Corat Coret.
Tingkat kemampuan tidaklah masalah. Poinnya adalah untuk
mengekspresikan diri anda secara bebas. Sebagai contoh : gambarlah apa
saja di karton yang lebar.

4. Lakukan sesuatu yang benar-benar menyenangkan.
Jangan menunggu kencan. Untuk sejumlah orang, ini artinya menghadiri
event olah raga atau pemutaran film. Pilihlah aktivitas yang
menyenangkan dengan kebutuhan tanggung jawab yang paling minim.

5. Bicarakan dengan anggota keluarga atau teman. Jadilah selektif. Sejumlah orang yang tidak tepat justru menciptakan stress. 

6. Berinteraksi dengan hewan peliharaan.
Jika anda tidak punya hewan peliharaan, pergilah ke teman atau anggota
keluarga yang memiliki hewan peliharaan, burung atau ikan hias.

7. Tolonglah orang lain yang memiliki stress lebih berat dari anda.
Itu benar-benar akan meminimalkan perasaan yang dalam terhadap masalah
ketika seseorang melihat orang lain dengan kesulitan yang lebih berat.
Tidak perlu dengan cara yang rumit, kartu ucapan simpati atau telepon
bisa dilakukan.

8. Berdoalah melalui ayat dalam kitab Mazmur. Untuk saya, ini akan mengurangi stress yang memicu depresi.

9. Kurangi begadang, perbanyak jam tidur.
Ya, anda membaca sesuatu yang benar!. Ini pada kenyataannya
menyelamatkan waktu dalam jangka panjang. Setelah semuanya, kita akan
jauh lebih fokus dan energik ketika kita memiliki cukup tidur.

10. Konsumsi vitamin B-Kompleks dan Kalsium.
Dua suplemen ini yang benar-benar menolong saya. Pastinya, lakukan
konsultasi dengan paramedis atau dokter anda. Lalu, belilah suplemen
itu di toko obat terdekat.

11. Rawat tubuh anda.
Pakailah sepatu yang menunjang dan baju yang nyaman (tentunya bagus
secara fashion). Lakukan peregangan badan. Lakukan pemijatan. Beli
bantal yang empuk. Semuanya itu pantas untuk anda.

12. Sederhakan.
Prioritaskan diri anda untuk melakukan yang ada dalam daftar. Hilangkan
hal-hal yang tidak diperlukan. Cobalah untuk melihat ke belakang dan
berpura-pura menjadi manajer untuk menangani semua hal.

5 Tips Penjangkauan untuk Lajang Kristen

Tips ini membangun kualitas pribadi yang membuat orang menjadi pasangan yang lebih baik kelak : 

1. Lakukan penjangkauan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga melalui kegiatan relawan di rumah-rumah rehabilitasi. Percayai
saya : Menunggu orang (pasanga) terbaik dari Tuhan atau menghidupi
kehidupan sebagai seorang lajang benar-benar akan kelihatan jauh lebih
menarik ketika dibandingkan dengan mereka yang mengalami kekerasan
dalam rumah tangga. Ini membangun empati yang dalam dan juga
kepedulian.

2. Relakan anda diri untuk melayani di bagian
pelayanan gereja atau memberikan perhatian pada anak-anak teman. Atau
menjadi sponsor dan berkorespondensi dengan anak-anak diseluruh dunia
melalui misi Kristen yang menjangkau dunia.
Bekerja dan
berkorespondensi dengan anak-anak menjadikan kita keluar dari
komplikasi orang dewasa. Itu juga memberikan orang-orang kesempatan
untuk belajar bagaimana untuk mempedulikan masa depan anak-anak atau
mengasihi anak-anak secara emosional, spiritual, dan kebutuhan
fisiknya. Tetap “terlatih” dengan anak-anak adalah kemampuan yang tak
ternilai baik untuk pria atau wanita dewasa.

3. Hiburlah
penghuni rumah jompo atau yatim dengan nyanyian, bacaan, permainan atau
menyumbang pada keberadaan orang lain. Hal ini selalu memberikan
perspektif yang baru.
Hal ini mengajar orang tentang ketangkasan
hidup dan nilai penting kehidupan bagi Tuhan – apakah dia seorang
lajang atau menikah; tua atau muda. (Kita yang lajang merasa lebih muda
dan merdeka ketika kita mengunjungi orang yang lebih tua yang memanggil
kita dengan sebutan ”nak”). Sebagai tambahan, hal ini akan menyiapkan kita untuk tahap kehidupan masa depan.   

4. Jangkau para janda tua dan duda di gereja anda.
sebagai lajang, kita tahu perasaan kehilangan seseorang yang belum
pernah kita temui. Bayangkan rasa sakit kehilangan seseorang. Kenalkan
diri kita pada mereka, maka dukacita mereka akan meringankan beban
penantian kala menanti seorang yang kita cintai. Kumpulkan hal itu
sekarang dan sadari bahwa Surga hanya berada sekeliling arena kita
untuk menjaga perspektif kita tetap sehat dan tetap terjaga.

5. Ambil bagian dalam pelayanan kabar baik. Fokus
pada kenyataan bahwa, tidak masalah apakah kita menikah atau tidak,
adalah amat penting bagi kita untuk membagikan kabar baik tentang
Yesus. Kesendirian tidak pernah melemahkan kemampuan kita untuk
membagikan isi hati kita tentang Yesus. Pada kenyataannya, kita tahu
seperti apa menunggu dan mengharapkan pasangan masa depan kita. Marilah salurkan “hasrat hati” kita menjadi “hati yang menginspirasi” untuk menerima Yesus.    (nat)

                              

Sumber: Stacie Ruth Stoelting - CBN

Jangan Mudah Menyakiti Anak

June 9th, 2007 by ritafull

Jangan Mudah Menyakiti Anak
JAWABAN.com
- Kekerasan pada anak belakangan ini kian marak diberitakan media massa
nasional. Para pelaku yang kemudian mendapat tindakan hukum nyaris
sebagian besar adalah orang-orang terdekat anak yang menjadi korban,
bahkan tak jarang adalah orangtuanya sendiri. Tak hanya secara fisik
anak-anak tersebut mengalami penderitaan, namun dampak psikis tentunya
tak kalah hebat mendera para korban. Tentunya, fakta yang ada ini
terasa sangat tragis dan ekstrem bagi umumnya orangtua. Tapi,
hati-hati, jika orangtua tak pandai menahan emosi dan menghadapi anak,
orangtua bisa tergolong melakukan kekerasan pada anak walaupun bukan
termasuk tindakan kriminal.

Psikolog
dari Pusat Krisis Universitas Indonesia (UI), Dini P Daengsari,
menjelaskan, kekerasan pada anak dalam kehidupan rumah tangga biasanya
dilakukan sebagai bentuk hukuman dari orangtua. �Seringkali orangtua
tidak bermaksud demikian namun dalam menerapkan pola disiplin pada anak
terkadang mereka menyakitinya secara fisik juga emosional secara
verbal,� katanya. Dini membagi bentuk kekerasan pada anak menjadi dua,
yaitu secara fisik dan non fisik. Kekerasan secara fisik yang
sering tak sadar dilakukan orangtua seperti mencubit, memukul atau
mendorong karena anak dinilai telah melakukan hal yang salah atau tidak
sesuai dengan keinginan orangtua. Hal ini dapat menyebabkan anak secara
fisik terluka. Kedua, secara non fisik seperti membentak atau
memberi label negatif pada anak. Dibalik perlakuan tersebut sebenarnya
orangtua ingin memberitahukan konsekuensi atas kesalahan yang dibuat
anak melalui hukuman yang bentuknya terkadang mengandung unsur
kekerasan. Namun. Jelas Dini, hukuman secara nonfisik ini bisa lebih
berdampak serius karena dapat mempengaruhi perkembangan emosi anak
untuk selanjutnya.

Sedangkan, psikolog pendidikan dan perkembangan anak, Dr Seto Mulyadi,
Msi,
mengatakan tindak kekerasan pada anak adalah setiap tindakan yang
menimbulkan rasa sakit secara fisik dan psikis serta membuat anak
merasa tak nyaman. ��Besar kecilnya luka yang dialami anak tergantung
pada intensitas tindak kekerasan dilakukan oleh orangtua, karakteristik
anak, dan pengalaman hidupnya,�� kata Ketua Umum Komnas Perlindungan
Anak ini.

Dini menerangkan seharusnya orangtua
mempertimbangkan dampak dari kekerasan pada anak kelak. Tak hanya
berdampak pada luka fisik saja. �Kedua jenis kekerasan ini sama-sama
berdampak buruk bagi perkembangan emosional anak,� katanya. Pertama,
akan timbul rasa benci dan dendam pada anak terhadap orangtua sehingga
menghambat kualitas hubungan orangtua-anak, serta anak akan menjauhi
atau memberontak orangtua. Kedua, perilaku orangtua yang agresif dan
kasar akan ditiru oleh anak. �Ada kemungkinan anak bisa melakukan
tindakan kekerasan di lingkungannya seperti menakut-nakuti anak yang
lebih muda usianya atau lebih lemah darinya,� tambah Dini. Seto
menjelaskan, dampak kekerasan juga akan membentuk kepribadian baru pada
anak. Misalnya anak yang mulanya ceria menjadi mudah sedih atau
sensitif. Sedangkan dampak jangka panjangnya, akan mempengaruhi
pembentukan kepribadiannya seperti agresif dan pemberontak. Selain itu
juga mempengaruhi konsep dirinya, anak akan mempersepsikan dirinya
selayaknya lingkungan melabelinya seperti jika anak sering dibilang
nakal atau bodoh, maka anak akan berperilaku sesuai dengan label
tersebut. ��Konsep diri ini akan berkembang ke arah yang negatif pada
anak,�� katanya.

Seto memaparkan, anak yang sering mendapat
perlakuan kasar dari orang-orang terdekatnya lambat laun rasa percaya
diri dan harga dirinya akan terpuruk. Sehingga dapat menghambat
kemampuan dan keberanian anak untuk mencoba hal-hal baru serta
mengembangkan minat serta potensinya. Seperti pepatah bilang, �kalah
sebelum berperang� begitu sebutannya bagi anak yang memiliki konsep
diri negatif. �Anak akan melakukan peniruan tindakan, dan berpikir
bahwa hidup harus dengan kekerasan,� ujarnya. Untuk menghindari hal
tersebut, lanjut Seto, orangtua harus mengubah cara berpikir (mind
framing) bahwa anak adalah harta miliknya. Sehingga terkadang orangtua
mengeksploitasi anak dan menganggap anak tidak memiliki hak.
��Seharusnya orangtua berpikir bahwa anak adalah titipan Tuhan yang
harus dipertanggungjawabkan. Dalam mendidik anak orangtua tak hanya
melihat hasilnya saja tapi juga prosesnya,�� paparnya.

Dini
mengatakan, oleh sebab itu sebaiknya orangtua mengenal perkembangan
kecerdasan dan psikologis anak berdasarkan usianya. Sehingga orangtua
tidak terburu-buru mencap perilaku anak dan mampu meredam emosinya jika
melihat anak melakukan penyimpangan. Misalnya, ketika usia anak 3-4
tahun merupakan masa anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan
mengeksplorasi hal-hal yang dilihatnya seperti memegang stop kontak
atau membanting barang-barang. Orangtua jangan langsung membentak,
mencap bandel atau melampias-kan emosi melalui tindakan kekerasan.
Sebaiknya beritahu bahwa tindakan tersebut tidak benar dengan kata-kata
atau bahasa tubuh tanpa dikendalikan oleh emosi. �Berikan pengertian
sesuai jangkauan pemikiran anak, tanpa harus bertindak atau berkata
kasar,� kata Dini.

Terkadang orangtua ingin menunjukkan rasa
tidak suka pada perilaku anak. Sah-sah saja, sambung Dini, namun harus
dilakukan dengan tidak mengikuti emosinya sebagai bentuk ekspresi saja
atau sinyal saja, seperti memukul pantat atau menyentil tangannya
dengan lembut terutama bagi anak yang masih terlalu kecil atau belum
dapat berkomunikasi secara verbal. Setelah itu, beritahu tindakan yang
benar atau sebaiknya anak lakukan. Mengatur perilaku anak agar sesuai
dengan aturan norma yang berlaku di suatu lingkungan tidak perlu dengan
kekerasan terutama jika anak sudah semakin besar anak sudah mampu
mengerti bila diberitahu secara verbal saja. Orangtua sebaiknya tidak
melakukan hukuman demikian terutama di hadapan teman-temannya karena
bisa menjatuhkan harga diri anak. Sebelum memarahi atau menghukum anak
sebaiknya coba telaah alasannya melakukan tindakan tersebut seperti
merebut mainan dari temannya. �Dengan mengetahui perubahan psikologis
anak, orangtua bisa memahami apa yang diinginkan dan tindakan yang
dibutuhkan oleh anak,termasuk strategi pemberian hukuman,� kata Dini.

Dini
mengatakan, ada beberapa hukuman yang bisa diberikan tanpa
dilatarbelakangi tindak kekerasan. Beberapa alternatif hukuman misalnya
dicabut haknya dalam melakukan hal yang disukainya, seperti mengurangi
jadwal menonton tv. Mengajarkan pada anak sesuatu ada konsekuensinya.
��Namun, jangan pelit juga melakukan reward sehingga anak akan lebih
jelas mengetahui hal-hal yang boleh dan tidak boleh,�� terangnya. Seto
menjelaskan, mendidik anak tidak harus dengan hukuman namun keteladanan
dan kasih sayang. Boleh saja orangtua memberi konsekuensi atas tindakan
buruk atau penyimpangan disiplin dengan cara mengurangi penghargaan
(reward), misalnya setiap anak tidur sesuai dengan jam malam maka akan
diberi tanda bintang, jika melanggar maka anak kehilangan satu bintang.
�Yang perlu dipahami, setiap penetapan disiplin dan aturan norma
memerlukan diskusi dengan anak, jadi bukan sekedar aturan orangtua
saja,�katanya.

Sebaiknya
orangtua juga mengenali kondisi emosinya saat akan menghadapi anak yang
melakukan kesalahan Tenangkan diri terlebih dulu agar orangtua bisa
mengelola emosinya ketika berhadapan dengan anak. ��Jangan sampai
nantinya orangtua bertindak tidak konsisten misal sebelumnya anak tidak
dimarahi ketika melakukan suatu tindakan yang menyimpang, namun karena
sedang emosi orangtua jadi memarahi anak,�� katanya.

Bagaimana jika tindak kekerasan sudah terjadi?
Dini
menganjurkan orangtua masih bisa memperbaikinya dengan meminta maaf dan
berbuat hal-hal yang bisa menenangkan anak, seperti memeluk atau
menyapa anak dengan kasih sayang. Ketika orangtua meminta maaf, anak
akan belajar bahwa kekerasan merupakan tindakan yang salah. Hal ini
akan mengajarkan anak membedakan mana tindakan yang benar dan yang
salah. Selain itu minta anak untuk mengingatkan orangtua.

Berikut ini beberapa contoh kasus dan cara menghadapinya:

1.Anak
menumpahkan susunya, tindakan anda: Jangan berteriak atau langsung
memukul anak. mungkin anak tidak sengaja melakukannya. Minta dia
membersihkan tumpahan itu sambil berkata �hati-hati nak�. Kemudian
berikan segelas susu lagi.

2. Jika Anda melihat anak memukul
temannya: Segera pindahkan anak dari grup mainnya. Berikan waktu
baginya untuk meluapkan emosi lalu diskusikan tindak-annya. Sebagai
hukumannya, jangan izinkan bermain kembali, sampai anak benar-benar
mengerti dan menyesal bahwa tindakannya itu salah.

3. Aduh
tangan anak tak bisa diam!: Cobalah bersikap realistis, di masa ini
anak memang memiliki rasa keingintahuan yang besar dan senang
bereks-plorasi. Namun berilah pengertian, jika piring atau gelas pecah
maka akan melukainya.

4.
Huh! Anakku tidak bisa jaga barang selalu hilang: Jika anak
menghilangkan barang akibat kecerobohannya. Anak berhak menerima
konsekuensi bahwa dia tidak akan dibelikan barang yang dihilangkan lagi
sampai anak menunjukkan rasa tanggung jawabnya.

5. Anak rewel
saat di ajak makan di retsoran atau mengunjungi arisan keluarga: Segera
asingkan anak dari lingkungan tersebut, jika anak Anda masih berusia
2-4 tahun. mungkin anak belum nyaman dengan lingkungannya. Jika sudah
lebih besar, hindari memanjakan atau memarahinya, sebaiknya beritahu
bahwa dengan tindakan yang demikian orang lain akan enggan
mengundangnya ke suatu acara.

Selain orangtua, Kak Seto
mengingatkan, anggota keluarga lainnya seperti pengasuh, tante, om atau
sepupu juga berpotensi melakukan tindak kekerasan di rumah. Sebaiknya
orangtua juga membuka dialog dengan anggota keluarga, bahwa kekerasan
dapat berakibat buruk pada anak. Jadi setiap anggota keluarga memiliki
pola berpikir yang sama, bagaimana mendidik dan mengasuh anak. Waspadai
juga lingkungan masyarakat, lanjut Seto, beri pengertian pada anak
lingkungan luar belum tentu aman. Namun jangan menakut-nakuti anak,
persenjatai anak dengan pengetahuan yang cukup seperti diperkenalkan
dengan pendidikan seks sedini mungkin untuk menghindari tindak
pelecehan seksual atau anak harus ditemani dengan teman atau orang yang
bisa dipercaya.(fis)

                              

Sumber: inspirekids

Kuasa Dari Menjadi Diri Sendiri

April 14th, 2007 by ritafull

Kuasa Dari Menjadi Diri Sendiri
JAWABAN.com
- Di tengah-tengah kehidupan kita menemukan bahwa sering "lebih aman"
bagi kita memilih untuk "menutupi diri" daripada harus membuka
keberadaan kita, baik itu pendirian, perasaan, maupun kelemahan dan
kesalahan kita. Penyebabnya, karena tidak jarang dari kita yang
mengalami luka akibat penolakan yang dilakukan oleh lingkungan kita
masing-masing, baik itu di dalam rumah tangga, keluarga, sekolah,
kampus, maupun tempat kerja kita. Kita menemukan bahwa lingkungan kita
seringkali tidak seramah yang kita harapkan atau inginkan. Akibatnya,
menutup diri dan tidak jarang "berpura-pura", merupakan alternatif yang
lebih aman yang sering kita pakai untuk menghadapi suatu keadaan yang
tidak menyenangkan.

Melalui
tulisan ini, saya ingin anda mengerti bahwa ada suatu kekuatan yang
sangat besar yang mampu menyentuh dan mempengaruhi kehidupan orang lain
sedemikian dalam, yaitu pada saat anda menjadi dirimu sendiri.

Ada
suatu istilah yang dikenal di dalam dunia kepemimpinan, mengenai
kekuatan dari suatu pengaruh yang sangat besar yang dapat diberikan
oleh seorang pemimpin kepada lingkungannya. Istilah tersebut ialah kata
"authentic" yang berasal dari bahasa Yunani kuno "authentikos".
Kamus Webster memberikan definisi untuk kata tersebut sebagai berikut:
asli (not false or imitation, original), murni (genuine). Selain itu
definisi yang diberikan oleh The Ethics Center for Engineering and
Science dari Massachussetts Institute of Technology (MIT) untuk kata
"authentic" adalah "tidak adanya kemunafikan" atau "membohongi diri
sendiri" (the absence of hypocrisy or self-deception) yang lebih lanjut juga dijelaskan oleh kamus Webster sebagai tidak munafik (genuine, not being a hypocrite). Kata munafik (hypocrite)
sendiri berarti "berpura-pura, meniru" atau "bertindak seolah-olah"
untuk sesuatu (kebiasaan, nilai, atau karakter) yang orang tersebut
sebenarnya tidak miliki.

Mazmur 26:4 berkata, “Aku tidak duduk dengan penipu, dan dengan orang munafik aku tidak bergaul."
Sebaliknya saya percaya akan kuasa dari kesaksian kehidupan kita "apa
adanya" yang akan Tuhan pakai untuk menyentuh kehidupan banyak orang
lain.

Kepemimpinan bukanlah hanya mengenai suatu posisi yang
dimiliki seseorang, melainkan pengaruh yang orang tersebut berikan,
baik positif maupun negatif. Seorang pemimpin yang sejati, asli, murni,
atau authentic adalah seseorang yang hidup dengan membiarkan orang lain
membaca kehidupannya seperti suatu buku yang terbuka, tanpa ketakutan
untuk menunjukkan semua keberadaannya, baik kekuatan, kelemahan, maupun
kesalahan yang dibuatnya.

Pengaruh
terbesar yang dapat diberikan seorang pemimpin kepada orang yang
dipimpinnya bukanlah melalui kesempurnaannya, melainkan melalui
perubahan yang ditunjukkannya.

Being real, being human, being yourself, the first step in becoming a true leader.”(fis)

                              

Sumber: jpcc - Jose Carol

Perploncoan Hancurkan Mental Bangsa

April 10th, 2007 by ritafull

                  Selasa 10 April 2007
  Perploncoan Hancurkan Mental Bangsa
JAWABAN.com
- Akar masalah dari kasus tewasnya mahasiswa Institut Pemerintahan
Dalam Negeri (IPDN), Cliff Muntu (19), pekan lalu dan beberapa
mahasiswa IPDN sebelumnya, adalah penggunaan kekerasan oleh mahasiswa
senior sebagai bagian dari perpeloncoan mahasiswa baru.

Oleh
karena itu, berbagai kalangan mendesak agar perpeloncoan yang diwarnai
kekerasan fisik dilarang di lembaga pendidikan sipil. Sebab, dampak
dari perpeloncoan itu adalah hancurnya sikap dan watak bangsa Indonesia
yang diemban oleh generasi muda.

Demikian rangkuman pendapat
sejumlah praktisi dan pakar pendidikan yang dihubungi Pembaruan di
Jakarta, Senin (9/4). Mereka adalah pakar pendidikan HAR Tilaar, Rektor
Universitas Pelita Harapan (UPH) Jonathan L Parapak, Arief Rachman,
serta Wakil Ketua Komisi X DPR, Anwar Arifin.

Menurut HAR
Tilaar, perpeloncoan secara kekerasan di kampus adalah warisan Belanda
yang sudah ketinggalan zaman. Cara itu harus ditinggalkan, karena tidak
sesuai lagi dengan upaya membangun masyarakat demokrasi.

Menurut
guru besar emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu, cara
perpeloncoan di IPDN dan kampus lainnya pada umumnya harus diubah.
Apalagi di Belanda cara itu sudah tidak diberlakukan lagi.
Kampus-kampus modern di Indonesia sudah menerapkan cara orientasi yang
cukup bagus.

Dia berpendapat IPDN sebaiknya dilebur menjadi
sekolah tinggi di bawah naungan Depdiknas. Karena itu, Presiden perlu
mengeluarkan keputusan untuk perubahan status ini. Selain itu,
pemerintah harus mengeluarkan keputusan melarang kegiatan perpeloncoan,
berikut sanksinya

Berdampak fatal
Jonathan Parapak
mengungkapkan, perpeloncoan berdampak fatal terhadap sistem pendidikan
nasional, pembangunan karakter, sistem politik, dan kepemimpinan
nasional. Sebab, praktek perpeloncoan di perguruan tinggi, termasuk di
IPDN, justru mengarah pada penyalahgunaan kekuasaan oleh mahasiswa
senior terhadap yuniornya.

"Selain penyalahgunaan kekuasaan, yang harus ditentang karena melanggar hak asasi manusia (HAM)," tegasnya.

Menurutnya,
perpeloncoan di lembaga pendidikan umumnya dimaksudkan untuk membangun
budaya hirarki dan penghormatan yunior terhadap senior. Namun, terjadi
penyimpangan saat menanamkan budaya itu melalui kekerasan.

"Bagaimana
pun, hirarki harus tetap dibangun, tetapi dilakukan dengan etika dan
cara pendidikan yang manusiawi, bukan fisik," ujarnya.

Jonathan
menilai, praktik perpeloncoan saat ini merupakan bentuk mini dari
kolonialisme di dalam institusi pendidikan, dan keluar dari maksud dan
tujuan pendidikan nasional. "Pendidikan seharusnya diarahkan untuk
mengubah paradigma dan meningkatkan kadar intelektualitas siswa,"
katanya.

Budaya kekuatan
Pakar pendidikan Arief
Rachman menilai, terulangnya kekerasan senior terhadap yunior di IPDN
menunjukkan lemahnya pengawasan pimpinan lembaga itu. Dalam manajemen
pendidikan, pimpinan seharusnya dapat melaksanakan visi dan misi
pendidikan menjadi sebuah budaya. Budaya menghormati senior dan
membimbing yunior jangan diterjemahkan dalam bentuk kekerasan dan unjuk
kekuatan.

"Kalau
budaya seperti itu yang berkembang, maka bayangkan apa yang terjadi
bila mereka kelak terjun ke masyarakat. Jangan heran kalau sekarang
sering terjadi demonstrasi kepada pimpinan karena budaya yang
dikembangkan dalam pendidikan adalah budaya kekuatan," katanya.
Menurut
Arief, membangun sikap hormat yunior terhadap senior tidak harus dengan
kekerasan. "Teori kekerasan hanya berlaku di hutan," tegasnya.

Secara
terpisah, Anwar Arifin menilai, perpeloncoan adalah cara primitif untuk
memasuki masyarakat baru. Menurutnya, tidak ada alasan untuk
mempertahankan perpeloncoan ala IPDN tersebut, kalau generasi muda
Indonesia mau diarahkan ke masyarakat yang demokratis.
Dekan
Fisipol Universitas Hasanuddin itu menegaskan, perpeloncoan yang
dilakukan di Belanda pun sudah lama dihilangkan. Itu pun bukan kriminal
seperti yang terjadi di IPDN.

Para rektor harus tegas, bahwa
perkenalan dengan gaya kriminal tidak diperbolehkan. Pimpinan
universitas atau dekan harus mampu mengalihkan ke pengembangan bakat
dan minat.
"Yang jelas, cara perpeloncoan ala IPDN itu melanggar
HAM. Apalagi sudah berulang kali terjadi dan selalu diwarnai kekerasan,
sehingga mengarah pada kriminal," tegasnya.

Untuk itu, senada
dengan para pakar dan praktisi pendidikan, Anwar Arifin mendesak
pemerintah untuk melarang semua bentuk perpeloncoan dengan kekerasan di
lembaga pendidikan sipil, dan memberi sanksi tegas jika masih ada yang
melakukannya.(joe)

                              

Sumber: suarapembaruan

People Person VS People Pleaser

April 9th, 2007 by ritafull

People Person VS People Pleaser
                            JAWABAN.com
                              - Pikirkan situasi berikut ini dan apa yang akan anda lakukan:

Anda
berjanji makan malam dengan pasangan sepulang kantor, tapi tiba-tiba
atasan anda meminta anda lembur untuk membantunya menyelesaikan sebuah
proyek penting. Apakah anda akan:
a.) Menolak atasan dengan sopan, karena anda tahu pasangan anda sudah memasak seharian dan anda ingin menghargai usahanya.
b.) Karena proyek ini penting bagi kantor, anda minta pegertian pasangan dan berjanji besok anda yang akan memasak untuk dia.
c.) Berkata “Ya.” Karena anda tidak ingin mengecewakan atasan.
d.) Menolak dengan hati tak enak daripada pasangan anda nanti cemberut semalaman.
e.) Sangat bingung karena apapun pilihan anda, salah satu akan merasa diabaikan dan sakit hati.

Jika
anda menjawab A atau B, kemungkinan besar anda adalah seorang “people
person” (anda membuat pilihan dengan mempertimbangkan kepentingan orang
lain selain kepentingan diri sendiri). Jika anda memilih C, D, atau E,
kelihatannya anda ada dalam kategori “people pleaser” (anda membuat
pilihan atas tekanan untuk menyenangkan seseorang). Sepintas kedua
jenis pribadi ini kelihatan serupa. Mereka sama-sama ramah,
menyenangkan, dan menjaga hubungan baik dengan semua orang. Tapi
motivasi mereka sesungguhnya berbeda.

Istilah “people person”
pertama kali muncul pada tahun 1990an untuk menggambarkan orang yang
ramah dan biasanya sangat bagus dalam bidang sales dan customer service.
Sekarang, istilah ini diterapkan secara lebih luas kepada setiap orang
yang senang berada bersama orang lain dan punya kemampuan tinggi untuk
bekerja dengan orang. Seorang “people person” akan termotivasi untuk
membangun hubungan yang kuat dan efektif dengan atasan, rekan, bawahan,
atau klien. Berkat kemampuan interpersonalnya yang baik, rata-rata dia
akan lebih sukses dalam pekerjaan. Bahkan pakar kepemimpinan John C.
Maxwell pun sampaimerasa perlu menulis satu buku khusus berjudul “Be A
People Person”.

Sedangkan
istilah “people pleaser” merujuk pada seseorang yang punya ciri-ciri
sebagai berikut: selalu berusaha menjadi apa yang diinginkan orang
lain, tidak berani mengemukakan pendapat, pantang berkata “tidak”,
seringkali setuju saja dengan pendapat orang lain, dan tidak tahu apa
yang sebenarnya dia inginkan. “People pleaser” biasanya tidak pernah
marah dan selalu siap diminta melakukan apa saja karena dia berpikir
hanya dengan begitu orang-orang akan menyukainya. Psikolog Harrier
Braiker bahkan menyebut “people pleaser” sebagai pengidap “penyakit
untuk selalu menyenangkan orang lain”. Sebagai orang Kristen, kita
memang diajar untuk menolong orang laindan membuat mereka bahagia. Tapi
berusaha menyenangka semua orang dengan segala cara adalah tindakan
seseorang yang putus asa dan rendah diri.

Bagaimana anda bisa menjadi seorang “people person” tanpa terjebak menjadi “people pleaser”?

Pertama-tama,
tentukan standar anda. Sampai sejauh apa anda bersedia mengkompromikan
batas-batas anda untuk menyenangkan orang lain. Untuk menentukan
standar, anda bisa belajar dari Paulus yang sempat dituduh sebagai
“people pleaser” oleh musuh-musuhnya, tapi dalam Galatia 1:10 dengan jelas dia mendeklarasikan standarnya: “Jadi
bagaimana sekarang, adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?
Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba
berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
”. Selama anda menjadi “God pleaser” seperti Paulus, anda tidak akan pernah terjebak menjadi seorang “people pleaser”.(fis)

                              

Sumber: getlife

Should Christians Buy Insurance?

March 24th, 2007 by ritafull

Should Christians Buy Insurance?

Steve Diggs

No Debt No Sweat! Financial Seminar Ministry

In
researching this article I ran across a copy of a letter in my files
dated October 1991.  Although it’s been nearly fifteen years, it is
still one of the most impassioned letters I have ever written. I sent
it to one of my closest associates pleading with him to pay attention
to his health insurance needs. At the time, Jeff (not his real name)
had just dodged a bullet that could have cost him his life. His father
had died of cancer a few years earlier, and it had appeared that the
son also might have the disease. Thankfully, Jeff got good news.  But
through the ordeal, it became obvious that he did not have adequate
health coverage.

Because of the closeness of our families, I decided to write to Jeff
urging him to get the insurance as soon as possible. He needed the
protection not only for himself, but also for his wife and three
children. As one who battled heart disease, I was convinced that having
proper health coverage was one of the most important acts of love Jeff
could show his family. I had personal experience with the high cost of
medical care, and the difficulty of getting good coverage after an
illness is diagnosed. Thankfully, Jeff decided to buy the insurance he
needed.

I say “thankfully” because about three years ago his wife was diagnosed
with a serious form of cancer. Thankfully, the Lord has blessed them
and she responded well to treatment. Today she continues to do
very well. But, during those dark days three years ago, the money was
available to pay for good quality medical care which no doubt
contributed to her recovery and peace of mind.

The Philosophical Question

If I were writing this primarily to a secular audience, I
probably wouldn’t say some of what follows. However, because of the
Christian worldview many of us hold, I want to address the issue of
buying insurance and its relationship to trusting God to provide.  In
my No Debt No Sweat! Christian Money Management Seminar, insurance is always part of what we cover.

I still remember a Christian radio program I heard a number of years
ago. On this particular day the host was visiting with an evangelist
who traveled the country preaching the Good News of Jesus. While I
admired much of what he had to say, I was really disappointed by part
of his presentation. At one point in the conversation he began to brag
about the fact that he carried no health insurance and that he simply
trusted God to provide. With that, he told a story about some health
expenses that his family had incurred, and then, gleefully told about
how other Christians had paid their bills.

Boy, that fried me! Didn’t this good man know about the Biblical
mandate to care for one’s own family? Paul went as far as to say that
providers who don’t provide for their families are worse than infidels!
That’s pretty strong language. Also, what about his witness to the
outside world? What does this say about a Christian’s sense of duty and
responsibility?

I realize that there are those who differ with me on this point. Some
people feel that it is more spiritual simply to trust God to provide
rather than to depend on the “devices of man.” But I find it curious
that these same people are often willing to accept the devices of other
men when they can’t afford to pay their own bills. It is also
interesting to me that some of these same people are willing to
selectively use other “devices of men” like locks on their doors,
seatbelts, and so forth.

I wonder if what presents itself as a form of super-spirituality isn’t
sometimes something else. At best, it may simply be a misunderstanding
of faith. At worst, it is an irresponsible refusal to accept the
appropriate (and, even God-ordained) responsibility that comes with the
headship of a home.

When it comes to insurance, there is not a one-size-fits-all approach
that’s right for everyone. There are all kinds to consider: Life,
health, homeowners, auto, disability, umbrella coverage, etc. My goal
is to open your eyes to the benefits of insurance so you will be
encouraged to learn more. Remember—knowledge is power. The more you
know about insurance and your coverage options the better able you will
be to protect your family from unforeseen loss. Like the insurance
people say, insurance isn’t just for the living—it’s also for those who
are left behind.

http://www.crosswalk.com/finances/1464249/

*5 GOLDEN RULES FOR FINDING YOUR LIFE PARTNER*

March 19th, 2007 by ritafull

*5 GOLDEN RULES FOR FINDING YOUR LIFE PARTNER*

A
relationship coach lays out his 5 golden rules for evaluating the
prospects of long-term success. When it comes to making the decision
about choosing a life partner, no one wants to make a mistake.

Yet,
with a divorce rate of close to 50 percent, it appears that many are
making serious mistakes in their approach to finding. If you ask most
couples who are engaged why they’re getting married, they’ll say:
"We’re in love." I believe this is the #1 mistake people make when they
date.

Choosing a life partner should never be based on love
(alone). Though this may sound not politically correct, there’s a
profound truth here. Love (alone) is not the basis for getting married.
Rather, love is the result of a good marriage. When the other
ingredients are right, then the love will come. Let me say it again:
You can’t build a lifetime relationship on love alone. You need a lot
more. Here are five questions you must ask yourself if you’re serious
about finding and keeping a life partner.

*QUESTION #1:*

*Do we share a common life purpose? Why is this so important?*

Let me put it this way:

If
you’re married for 20 or 30 years, that’s a long time to live with
someone. What do you plan to do with each other all that time? Travel,
eat and jog together? You need to share something deeper and more
meaningful.

You need a common life purpose.

Two
things can happen in a marriage. You can grow together, or you can grow
apart. 50 percent of the people out there are growing apart.

To make a marriage work, you need to know what you want out of life - bottom line - and marry someone who wants the same thing.

*QUESTION #2:*

*Do I feel safe expressing my feelings and thoughts with this person?*

This question goes to the core of the quality of your relationship.

Feeling
safe means you can communicate openly with this person. The basis of
having good communication is trust! i.e. trust that I won’t get
"punished" or hurt for expressing my honest thoughts and feelings.

A colleague of mine defines an abusive person as someone with whom you feel afraid to express your thoughts and feelings.

Be honest with yourself on this one. Make sure you feel emotionally safe with the person you plan to marry.

*QUESTION #3:*

*Is he/she a mensch?*

A mensch is someone who is a refined and sensitive person.

How can you test? Here are some suggestions.

i) Do they work on personal growth on a regular basis?

ii) Are they serious about improving themselves?

A teacher of mine defines a good person as "someone who is always striving to be good and do the right thing".

"So,
ask about your significant other: What do they do with their time? Is
this person materialistic?" Usually, a materialistic person is not
someone whose top priority is character refinement.

There are
essentially two types of people in the world: People who are dedicated
to personal growth and people who are dedicated to seeking comfort.
Someone whose goal in life is to be comfortable will put personal
comfort ahead of doing the right thing.

You need to know that before walking down the aisle.

*QUESTION #4:*

*How does he/she treat other people?*

The one most important thing that makes any relationship work is the ability to give.

By giving, we mean the ability to give another person pleasure.

Ask: Is this someone who enjoys giving pleasure to others or are they wrapped up in themselves and self-absorbed?

To measure this, think about the following:

i) How do they treat people whom they do not have to be nice to, such as waiters, bus boys, taxi drivers, etc?

ii) How do they treat parents and siblings? Do they have gratitude and appreciation?

Do
they show respect? If they don’t have gratitude for the people who have
given them everything, you cannot expect that they’ll have gratitude
for you – who can’t do nearly as much for them!

iii) Do they gossip and speak badly about others?

Someone
who gossips cannot be someone who loves others. You can be sure that
someone who treats others poorly will eventually treat you poorly as
well.

*QUESTION #5:*

*Is there anything I’m hoping to change about this person after we’re married?*

Too many people make the mistake of marrying someone with the intention of trying to "improve" them after they’re married.

As a colleague of mine puts it, "You can probably expect someone to change after marriage … for the worse!"

If
you cannot fully accept this person the way they are now, then you
aren’t ready to marry them. In conclusion, dating doesn’t have to be
difficult and treacherous. The key is to try leading a little more with
your head and less with your heart.

It pays to be as objective as possible when you are dating to be sure to ask questions that will help you get to the key issues.

Falling
in love is a great feeling, but when you wake up with a ring on your
finger, you don’t want to find yourself in trouble because you didn’t
do your homework.

*HOW WILL I KNOW IF I’VE MET THE PERSON I SHOULD MARRY?*

The
choice of a marriage partner should not be based on "I get a warm,
wonderful feeling whenever we’re together and I want to have that warm
wonderful feeling forever, so let’s go get married".

Feelings,
as we have discussed, have no logic on their own. They need to be
acknowledged, of course, but they need considerable assistance from
your brain.

Marriage means choosing the person you will spend
the rest of your life with. This, as you may have guessed, is a very
long time to spend with one person. This person will live with you, eat
meals with you, sleep with you and go on vacation with you. More
important yet, this person will share your children. You need to choose
wisely. The decision should not be made based on feelings alone. You
need to ask yourself some tough questions. The decisions have to be
made on solid considerations.

Will this person be a good
partner? Is he mature enough to put his own selfish desires aside to
look out for what is best for the family? Is he prepared to be a good
provider? What is his track record? Is he responsible enough to get a
good job and keep it?

Will this person be a good parent? Can
you stand the thought of your children turning out exactly like this
person? They will, you know. Children spend a lot of time with their
parents and consequently pick up many or most of their parents’
character traits. You had better like your spouse’s traits a lot
because you will be seeing them again in your children.

If
something were to happen to you, would you completely trust this
person, alone, with the task of raising and forming your children? This
is not a pleasant thought, but it is an important consideration. Not
everyone dies at a ripe old age with great grandchildren gathered
around the bed.

Sometimes a parent dies and leaves young
children in the care of the other parent. If you feel that you would
need to be around to correct or lessen this person’s influence on your
children, then you are considering the wrong person.

Does this
person share your faith in God? God does not give us children so that
we can mould them into the coolest, most popular people in school. Our
job is to get them to heaven. To do that, we need to raise them
believing in God. It is tough to do that if only one parent believes.

Saying
"This is right and that is wrong, and I want you to ignore Mommy until
you are thirty-five" does not work. Small children ask about eight
million questions in a single day.

The answers to those
questions go a long way toward forming the kind of adults they will
become. Who will be answering those questions for your children?

Does
this person you are marrying have sexual self-control? Single people
sometimes have this idea that marriage is just some kind of lifelong
sex festival and that as long as they have each other, they will never
be tempted by other people.

Wrong!

There are many
times in every marriage when one partner or the other is sexually
unavailable - illness, the last months of pregnancy, travel. There are
also times when spouses, just get on each other’s nerves. At times like
this, other people can seem very appealing. That can be dangerous,
because there are plenty of very attractive people out there who are
willing to make themselves available to married men and women. Do you
want someone who has never said "no" to sex? If he is not good at
saying "no" at eighteen, it won’t be different at forty. Do you want to
worry about whether or not your spouse is being faithful?

These
are very important questions, and if you are not comfortable with all
of the answers, you should definitely not marry this person.

None
if this is to say that feelings play no role at all in a marriage
decision. You don’t have to, "Well, I suppose that you would make a
good spouse and parent, so even though I don’t particularly like you I
guess I’ll marry you’. You need to be happy and excited about the
prospect of spending your life with someone. Your brain however must
acknowledge that this person as a good choice.

Don’t listen to your heart alone nor your head alone. Wait until your heart and head agree.

*by Rabbi Dov Heller, M.A.*

Jika Menikah Adalah Prioritas…

March 13th, 2007 by ritafull

Jika Menikah Adalah Prioritas…
                            JAWABAN.com
- Jika menikah adalah salah satu prioritas yang ingin dicapai, maka
penting untuk mengetahui, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum
masuk ke dalamnya. Selain itu, kita perlu juga memperhatikan
keseimbangan antara aktivitas-aktivitas persiapan yang dilakukan untuk
mencapai rencana tersebut.

Berdasarkan
survei, mayoritas orang menghabiskan waktu dan energi untuk
mempersiapkan pernikahan sebatas urusan finansial. Karena itu, banyak
yang bekerja rodi siang dan malam supaya bisa mengkredit rumah, mobil,
dan segala kebutuha pernikahan lainnya. Pergi dari rumah jam 7 pagi,
baru pulang lagi jam 9 malam. Sabtu juga kerja, dari siang sampai sore.
Bisa sampai malam kalau tiba-tiba ada klien penting yang berkunjng.
Minggu pagi menjadi waktu terbaik untuk “tewas” dengan tenang di tempat
tidur. Minggu siang bertemu dengan pasangan untuk makan siang bersama,
jalan-jalan di mall, atau ke pameran furniture untuk mulai mencari
perlengkapan rumah tangga. Mingu sore ke gereja lalu mencari cafe untuk
makan malam bersama. Di situlah, selama kurang lebih 1 jam, akhirnya
ada waktu untuk bicara dari hati ke hati. Tapi hanya itu. Satu jam
seminggu untuk bicara dengannya. Dan beberapa bulan kemudian, atas
desakan orang tua dan calon mertua yang selalu berkata, “Cepat menikah, sudah umur berapa sekarang?” lonceng pernikahanpun segera dibunyikan.

Demikian intisari dari survei sederhana yang dilakukan oleh Young Life Indonesia (YLI), sebuah ministry
yang bergerak di kajian kepemimpinan kaum muda dan profesional
Indonesia. Analogi dari situasi ini adalah orang yang hendak membangun
rumah. Dia bekerja mati-matian supaya bisa membeli semen, batu, pasir,
cat, dan sebagainya. Tapi, di saat-saat terakhir, dia tidak tahu apakah
tanah tempat dia akan membangun rumah itu cukup kuat untuk dijadikan
fondasi. Dan dia juga sebenarnya tidak yakin, rumah dengan gaya seperti
apakah yang akan dibangunnya. Pokoknya rumah, bentuknya seperti apa,
bagaimana nanti! Bukankah Tuhan akan menolong?

Ada 4 aspek aktivitas yang digunakan untuk melihat apakah aktivitas seseorang sudah seimbang atau belum:
1. Pekerjaan
2. Pengaturan hidup atau disiplin diri
3. Pengembangan diri atau pembelajaran
4. Hubungan dengan orang lain
Sementara
itu, definisi “seimbang” di sini dilihat dari 2 dimensi: keseimbangan
aktivitas-aktivitas yang dijalankan dan kesesuaian antara rencana
dengan aktivitas-aktivitas tersebut.

Hasil surveinya, 67% dari
31 orang yang diriset menunjukkan ketidakseimbangan dalam beraktivitas.
Sedang dalam dimensi kedua, 9% lebih melakukan aktivitas-aktivitas yang
tidak terkait sama sekali dengan apa yang direncanakan, dan sekitar 45%
melakukan aktivitas-aktivitas yang kurang terkait dengan rencana. Riset
sederhana ini memang tidak membahas apa dampak dari ketidakseimbangan
itu. Tapi tingginya tingkat kesibukan para konselor pernikahan di
gereja-gereja, dan maraknya perceraian di antara pasangan-pasangan
muda, merupakan indikasi nyata dari banyaknya orang yang dibutakan oleh
cinta dan segera menikah lalu membangun rumah tangga, tanpa memiliki
fondasi yang kuat secara seimbang.

Beberapa persiapan yang perlu dilakukan selain finansial antara lain: 

Mengenal Diri Pasangan Yang Asli
Persiapan yang seringkali tidak dilakukan calon suami istri adalah mengekplorasi the real him/her
selama berpacaran. Umumnya pasangan hanya melakukan berbagai aktivits
bersama, tapi jarang punya keberanian melakukan dialog mendalam untuk
menemukan dirinya yang asli. Jadi intinya harus dialog-sentris, bukan
sekedar aktivitas-sentris. Apalagi karena selama masa pacaran toleransi
masih tinggi sehingga asumsi tentang siapa dia diwarnai oleh persepsi
yang tidak realistis. Begitu pernikahan terjadi, langsung
terkaget-kaget karena ada banyak hidden package yang menjadi
bonus, yang baru muncul ketika situasinya kondusif. Ternyata waktu
lapar atau sakit misalnya, dia menjadi begitu emosional dan sangat
tidak sabar. Perkataannya pun bisa sangat agresif. Atau ketika masuk ke
soal seks, ternyata dia punya pikiran yang tidak pernah dibahas selama
berpacaran. Sekedar saran, mungkin waktu berpacaran yang ideal adalah
sekitar 2-3 tahun supaya kita bisa melihatnya dalam berbagai situasi.

Siap Mental
Untuk
seorang wanita, perlu sekali menyiapkan mental untuk menjadi penolong
bagi suami dan ibu bagi anak-anak. Seringkali wanita tidak siap untuk
hal itu. Apalagi karena wanita harus melahirkan anak dan mengatur rumah
tangga. Karena itu wanita perlu mempersiapkan diri dengan membaca
buku-buku tentang kewanitaan, anak, dan keluarga sebelum menikah. Juga
perlu belajar tentang manajemen waktu dan manajemen keuangan.

Siap-siap Menjadi PhD (Perfect Husband and Daddy)
Setelah
menikah, seorang wanita secara intuitif biasanya akan berubah. Walaupun
dia masih bekerja, tapi dia merasa bahwa rumah tangga adalah prioritas
yang harus diutamakan. Tapi seringkali pria tidak mengalami perubahan
intuitif ini. Karena itu secara khusus pria harus mempersiapkan
perubahan mental ini, sebab kalau tidak akan terjadi benturan, yang
jika tidak dibereskan akan menjadi jurang pemisah. Lambat laun, kalau
masing-masing punya aktivitas sendiri-sendiri, celah terhadap
perselingkuhan akan mudah terbuka.

Rencanakan Kehamilan
Kalau pasangan sudah menikah, otomatis orang-orang akan bertanya, “Sudah hamil belum?”
Walaupun begitu, sebaiknya kita jangan cepat-cepat punya anak kalau
belum siap, terutama jika belum siap dari segi finansial dan
pembelajaran tentang anak. Harus dipikirkan, jika punya anak nanti
apakah istri akan tetap bekerja? Kalau ya, anak akan tinggal dengan
siapa? Kalau dengan suster, otomatis nilai-nilai dari suster-lah yang
akan diturunkan ke anak. Tapi kalau istri yang mengasuh anak sehingga
tidak bekerja, apakah secara finansial sudah mencukupi?

Seimbangkan Perubahan Aktivitas
Apakah
kita sudah punya komunitas yang tepat, yang bisa mendukung pertumbuhan
rohani kita dan anak-anak kita? Kadang ada komunitas yang sangat
menekankan jemaat untuk terlibat dalam pelayanan. Kalau mengurangi
pelayanan berarti sudah mundur. Ini akan membuat kita merasa bersalah.
Karena itu aktivitas yang dijalani ketika masih single dan setelah berkeluarga harus ditimbang ulang supaya terjadi keseimbangan.

Rumah dan Mertua
Kita
harus membina hubungan yang sehat dengan keluarga besar calon pasangan
kita. Jika hubungan tidak harmonis, dikuatirkan nantinya akan terjadi
intervensi dari mertua atau anggota keluarga lain. Tapi selain itu,
tiap pasangan memang seharusnya tinggal sendiri (tidak tinggal di
pondok mertua indah). Karena perbedaan-perbedaan yang ada dapat memicu
perselisihan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tidak harus membeli
rumah, minimal awalnya menyewa atau mengontrak.

Hidup bisa
dibuat menjadi lebih seimbang, sederhana, dan berkualitas,jika kita
mengetahui gambaran besar dari apa yang akan dihadapi dan fondasi yang
dibutuhkan untuk mewujudkan gambaran tersebut.(fis)

                              

Sumber: getlife

Apa Dialek Cinta Kamu?

March 13th, 2007 by ritafull

Apa Dialek Cinta Kamu?
                            JAWABAN.com
                              - Dr. Gary Chapman, dalam program pernikahannya dan juga dalam bukunya The Five Love Languages,
menunjuk bahwa setiap orang dalam suatu pernikahan memiliki satu cara
favorit dalam memberi dan menerima cinta. Saya sangat setuju dengan hal
ini. Pada kenyataannya, ada lima perilaku yang berbeda dimana orang
terlibat dalam mengkomunikasikan cintanya : tindakan, keinginan untuk kebersamaan, ekspresi fisik, dukungan secara positif, dan tindakan memberi hadiah.   

Gagasan “dialek cinta” didasarkan atas beberapa dalil :
1. Orang memberikan cinta seperti cara mereka ingin menerima cinta.
2. Pasangan kita jarang mempunyai cara yang sama dalam hal memberi dan menerima cinta.
3.
Ketika pasangan kita mengekspresikan cinta seperti yang kita sukai –
sesuai “dialek cinta” kita – kita merasa dikasihi atau dicintai.
4.
Ketika pasangan mengekspresikan cinta pada kita dengan dialek cinta
yang berbeda, usaha itu seringkali tidak kita perhatikan sebagai bentuk
pernyataan cinta.

Secara
sederhana, jika kamu tidak mengekspresikan cinta kamu dalam bentuk yang
dimengerti oleh pasangan, dia (pasangan) akan cenderung gagal untuk
menterjemahkan ekspresi yang kamu lakukan sebagai ungkapan cinta.

Mengetahui
dialek cinta kamu akan membuat lebih mudah bagi kamu untuk
mengkomunikasikan tipe tindakan yang bisa membuat kamu merasa dicintai.
Dan mencari tahu dialek cinta pasangan kamu akan menolong kamu
merencanakan jenis tindakan atau sesuatu yang membuat dia merasa
dicintai. Ikuti test berikut ini yang bisa kamu ambil sebagai
penjelasan tentang jenis dialek cinta yang kamu miliki. Hal ini
memberikan dua tujuan : Pertama, ini akan menginformasikan pada kamu cara-cara yang kamu lebih sukai untuk memberikan atau menerima cinta. Kedua, ini akan memberikan pada pasangan kamu gagasan yang konkrit untuk membuat kamu merasa dicintai.   

Instruksi

Ukur
dan nilai setiap pernyataan berikut berdasarkan bagaimana kekuatan yang
kamu rasakan sebagai cara kamu untuk memberikan dan menerima cinta.
Cobalah untuk tidak membagikan atau membicarakan jawaban kamu dengan
pasangan hingga kamu dan pasangan kamu menyelesaikan test ini. Pakailah
skala nilai sebagai berikut :

”Nilai 1”  jika pernyataan hampir tidak benar tentang cara kamu memberi dan menerima cinta
”Nilai 2”  jika pernyataan kadang-kadang benar tentang kamu
”Nilai 3”  jika pernyataan sering benar tentang kamu
”Nilai 4”  jika pernyataan benar-benar mewakili bagaimana kamu memberi dan menerima cinta

Uji Dialek Cinta Kamu

____1. Saya merasa dicintai ketika kamu melakukan sesuatu yang saya minta
____2. Saya merasa dicintai ketika kamu terus mempertahankan kontak mata dengan saya ketika saya berbicara
____3. Saya suka ketika kamu meminta satu pelukan dari saya
____4. Ketika kamu memuji saya, saya merasa amat dicintai
____5. Saya suka ketika kamu memberikan saya hadiah   
____6. Ketika kamu turun tangan untuk menolong saya melakukan sesuatu, saya benar-benar menghargainya.
____7. Saya perlu cukup waktu untuk dihabiskan berbicara dengan kamu setiap hari
____8. Saya harap kamu mau mencium saya lebih banyak lagi
____9. Saya memikirkan tentang pujian kamu lama setelah kamu memberikannya
____10. Ketika kamu mengejutkan saya dengan hadiah kecil, saya merasakan betapa kamu peduli   
____11. Saya sering berkomentar pada orang lain tentang betapa banyaknya kamu menolong saya untuk menyelesaikan banyak hal
____12. Tidak menjadi masalah tentang apa yang kita lakukan, saya hanya menikmati kebersamaan denganmu
____13. Saya dapat mengikuti “kontes berciuman terlama” denganmu dan menikmati setiap menitnya
____14. Ketika kamu mengatakan hal baik tentang saya, itu bagaikan musik bagi telinga saya
____15. Apa yang saya cari didepan yang lebih dari apapun adalah memberi dan menerima hadiah-hadiah.
____16.
Ketika saya ingin mengekspresikan cinta saya, pertama saya berpikir
tentang apa yang mungkin bisa saya lakukan secara istimewa untuk kamu
____17. Saya pikir cara terbaik untuk mengucapkan cinta adalah melalui WAKTU
____18. Saya berharap kita dapat berpelukan dan bermesraan lebih sering    
____19. Lebih dari apapun, saya pikir adalah penting untuk mengatakan “saya mencintai kamu” paling sedikit sekali dalam sehari
____20.
Saya menghabiskan banyak waktu untuk mengemasi hadiah-hadiah. Setelah
itu, hadiah terbaik adalah cara terbaik untuk mengatakan “saya mencintai kamu”
____21. Semakin banyak kamu melakukan sesuatu untuk saya, semakin saya merasa dicintai
____22. Lebih dari apapun, saya mencari lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama-sama
____23. Mengatakan padamu dengan sebenar-benarnya, cara untuk hati saya ialah melalui ekspresi fisik dari cinta
____24. Saya benar-benar menyukai menulis dan menerima surat cinta
____25. Jika saya kaya, saya mungkin membelikan kamu hadiah setiap hari
____26.
Saya terus menerus mencari cara untuk untuk melakukan sesuatu untuk
kamu. Itulah cara bagaimana saya mengekspresikan cinta terbaik saya
____27.
Kamu bisa katakan betapa kamu mencintai saya dengan cara berapa banyak
waktu yang saya habiskan melakukan sesuatu dengan kamu
____28. Jika kamu ingin menunjukkan pada saya betapa kamu mencintai saya, maka kamu harus menyayangi saya dengan amat luar biasa
____29. Kamu dapat mengharapkan saya untuk memberikan kamu banyak pujian dan penghargaan
____30. Kapanpun saya merasa benar-benar mencintai, saya mulai mencari hadiah untuk saya berikan pada kamu.    

Lembar Penilaian Dialek Cinta

Sekarang
kembali dan tambahkan nilai 3 pada pernyataan yang kamu rasa paling
akurat menggambarkan cara kamu memberi dan menerima cinta. Kemudian
pindahkan jawaban kamu pada lembar koresponden kosong pada halaman
berikutnya. Kamu akan menemukan semua ini akan menjadi tugas yang
mudah jika kamu meloncati baris yang kosong dibanding mengurutkannya
kebawah
. Yakinlah untuk menambahkan petunjuk pada pernyataan yang
kamu rasa paling kuat menggambarkan cara kamu memberi dan menerima
cinta.

Setelah kamu memindahkan jawaban, tambahkan nilai kolom
dari atas ke bawah dan jumlahkan totalnya di bagian bawah. Sakor
tertinggi akan merepresentasikan cara yang paling kamu sukai untuk
memberi dan menerima cinta.

Tindakan
1.
6.
11.
16.
21.
26.
Total skor :

Mengutamakan Kebersamaan
2.
7.
12.
17.
22.
27.
Total skor :

Ekspresi Secara Fisik
3.
8.
13.
18.
23.
28.
Total skor : 

Dukungan Positif
4.
9.
14.
19.
24.
29.
Total skor :

Memberi Hadiah
5.
10.
15.
20.
25.
30.

Total skor :

Bicarakan Dialek Cinta Pada Pasangan

Kejutkan
pasangan kamu paling tidak sekali seminggu untuk bulan berikutnya
dengan sejumlah ekpresi cinta yang sesuai dengan diales cintanya.
Buatlah itu menjadi sesuatu yang spesial Namur mungkin untuk dilakukan.
Juga ingatlah untuk mengekspresikan penghargaan ketika pasangan kamu
mengekspresikan cintanya pada kamu dengan dialek cinta kamu.

Bahan pertanyaan diambil dari buku Happily Married for Life oleh  Larry J. Koenig, Copyright 2006. Diterbitkan oleh Life Journey.(nat)

                              

Sumber: Larry J. Koenig, Ph.D. - CBN.com