Archive for June, 2006

Tuesday, June 27th, 2006

                     

                     

                        

                     

                     

                        
Sisi Lain HTS
 
HTS?
TTM? Dah bukan barang baru lagi… and kayaknya udah familiar banget…
Entah hubungan itu dijalanin saat seseorang dah punya pasangan
(alasannya just for fun… or maybe another reasons. Buat gue sih, kalo
masih pengen bebas tebar pesona ‘n just wanna have fun, ya jangan
berkomitmen ama pasangan dululah… itu kan namanya ga menghargai
pasangan…) atau maybe hubungan itu dijalanin saat seseorang masih
jomblo, yah sekedar mengisi kekosongan… Terkadang yang menjalani
emang berniat kayak gitu, atau kadang secara ngga sadar mereka
menempatkan diri dalam HTS (yang dari luar keliatan seperti kayak dah
berkomitmen tapi ngakunya just friend…I bet there’s denial and
questions deep down inside…)

PDKT
yang serius tu beda loh ama HTS, ato sekedar menikmati ada orang yang
care ama kita ‘n kita pun care ama orang itu. Jangka pendek siy kita
maybe bisa enjoy-enjoy aja… "Ah yang penting jangan sampe ngelibatin
perasaan!" Tapi lama-lama hati kita yang jadi korban…

Yang
namanya PDKT serius, yang bener-bener mo kenal lebih deket, ga harus
dijabanin sambil ngirim sms mesra, telpon mesra, sering berdua tanpa
alasan yang jelas (misalnya, cuman buat ngerasa proud coz, "Hey, I’m
with someone here…"), kenapa ga jadi sahabatnya aja dulu?

PDKT
punya tujuan yang jelas ke depan, tapi HTS cuman mau menikmati
kebersamaan ‘n perasaan saat ini, no future plan yang jelas.. That’s
why, kalo PDKT, ada batasan ‘n juga tujuan yang jelas. Yang sering
terjadi, kita terlalu cepat melanggar batasan itu, maksudnya kita
berbuat seolah-olah kita udah menjalani hubungan dalam komitmen,
padahal jelas-jelas belum ada komitmen apapun. Somehow, dengan
ngejabanin hubungan model gitu, kalo suatu saat ntar salah satunya
memutuskan untuk ga berHTSan lagi, it’s easier to say, "Gue kan ga
pernah nyatain apa-apa ke elo?" Dan jadilah yang satu nangis bombay…
Korban hati bow…

Dalam
suatu relationship tu ga ada 1 pihak yang 100% guilty ‘n pihak lainnya
100% bener, dua orang yang menjalin hubungan itu pasti punya
kontribusi. Bahkan sikap pasif pun juga salah satu bentuk kontribusi.
So kita kudu bersikap bijak ‘n tegas dalam menjalin hubungan dengan
lawan jenis, demi kebaikan kita sendiri dan juga demi orang lain itu.

Biasanya
sih kalo udah ada rasa, ‘n ngeliat gelagat si cowok atau cewek yang
juga mulai kasih sinyal-sinyal (terlepas dari motivasinya , maksudnya,
cowok atau cewek itu ngasih sinyal dengan disengaja ato enggak sadar…
juga faktor pertimbangan subyektif kita tentang penggolongan
tindakan-tindakan mana yang termasuk sinyal), cewek cenderung lebih
pengen care, dan care di sini biasanya berlebihan (belum ada komitmen
apa-apa tapi perhatiannya dah kayak orang pacaran). Sometimes it’s just
happen coz we want to show that we care for someone. Apakah itu salah?
Tindakan care tentu aja ga salah… tapi waktunya yang ga tepat.

Udah
banyak banget pengalaman yang terjadi, and it’s true indeed that care
pun ada waktunya. Selama belum ada komitmen apapun, then bersikaplah
sebagai seorang teman atau sahabat. Memang sih PDKT tu beda dari sikap
kalo cuman temenan biasa, kalo PDKT kita jadi lebih pengen kenal,
pengen ngobrol, dan laen-laen. Tapi ngga harus pake perhatian yang
mesra sampe gimana getu kan… we shall hold on, tahan sampe ada
komitmen yang jelas, coz dalam relationship yang sehat emang ada
"rambu-rambu"nya (and "rambu-rambu" ga tertulis ini bener-bener perlu
untuk ngejaga hubungan itu tetap sehat). Kalo dilanggar ya udah ga
sehat lagi dunk namanya… and kalo misalnya ntar sad ending… kita
kudu introspeksi diri sendiri juga, apa kontribusi yang kita lakukan
sampe hubungan itu jadi ngga sehat ‘n cuman menyisakan pertanyaan "why"
dan penyesalan.

Gue
pernah baca kata-kata ini, Orang pertama (bijak) belajar dari
pengalaman orang lain dan bisa terus maju tanpa terjatuh dalam lubang
yang sama. Orang kedua ga pernah belajar dari pengalaman orang laen,
akibatnya pernah terjatuh satu kali dan dia belajar dari pengalamannya
itu, dan dia tidak pernah terjatuh dalam lubang yang sama lagi. Orang
ketiga ngga belajar dari pengalaman orang lain, pernah terjatuh tapi
ngga juga belajar dari pengalaman pertamanya, dan dia baru merenung
setelah berkali-kali jatuh dalam lubang yang sama… Orang ketiga ini
udah ngorbanin waktunya yang berharga dan juga hatinya… (sakit loh
kalo hati itu berulangkali terluka, pulih, terluka, pulih… luka itu
mungkin sembuh, tapi bekas luka akan tetap tertinggal di sana…)

So
which one are you? Our past memang menjadikan kita seperti saat ini,
tapi masa lalu kita ga bisa menentukan masa depan kita kecuali kita
mengijinkannya. Masa depan kita bergantung pada apa yang kita mulai
saat ini. Tuhan juga ngga pernah merencanakan untuk membuat elo
menderita dalam area ini. That’s why… we have to be wise in our
relationships…

How Much Can You Expect From a Friend?

Monday, June 12th, 2006

How Much Can You Expect From a Friend?
Les & Leslie Parrott
eHarmony.com

 

Your
answer to this question is a pretty good barometer of how well your
friendships will weather relational storms. Let’s face it:  We don’t
ask much of casual friendships, the kind in which you invite each other
to a party once a year. But we demand more than you might guess from
friendships characterized by strong feelings and a shared history. We
expect friendships to be easier, more automatic than they actually are.

Think about your childhood
friendships; they often set the tone for all the rest. You never
"worked" on first grade friendships, they just happened. Andy, my first
"best friend," for example, lived just two houses down from me and we
literally met in the sandbox at school. The bond was almost instant. He
liked Hot Wheels and Tonka trucks. So did I. What’s to discuss? It was
the beginning of a beautiful friendship – until his family moved to
Texas the next summer.

Andy’s departure pretty much
marked the end of trouble-free friendships in my life. Just a few short
years later, sandbox bliss was replaced by the tormented, possessive
feelings of a third grade relationship where blatant betrayal reared
its head. That’s when I learned that my new best friend, Donny, was
playing at another classmate’s house after school. Sound familiar? It
happens to nearly all of us.

There may be worse betrayals
in store, but probably none is more influential than the sudden
fickleness of an elementary school friend who has dropped us for
someone more popular after all our careful, patient wooing. It
shouldn’t be that way, we think to ourselves. But alas it is. It’s the
lesson our friendships continually teach us; a lesson we don’t want to
learn: Friendships are fragile.

The seeming ease of
friendships-compared to romantic and family relationships (more likely
loaded with emotional baggage) – is part of the reason we value
friendships so much. Relatively speaking, friendships just happen. This
makes it all the harder to accept the fact that these "easy"
relationships are not a terribly resilient bond.

Most of us are surprised,
even resentful, when once effortless friendships turn rocky. During the
honeymoon period of friendship, which usually lasts anywhere from a few
months to more than a year, each friend puts his or her best foot
forward. Honeymooning friends tend to overlook irritating habits and
may not even be aware of major character flaws or value differences. So
when they emerge, we feel betrayed.

What’s worse, we like to
think of close friends as mirror images of ourselves. And if a friend
isn’t quite as perfect as we’d originally thought – and hardly anyone
is – he or she can be seen as a bad reflection on us. Getting beyond
this feeling requires an acceptance of separateness and uniqueness. It
requires an honest answer to the question: How much can you expect from
your friends? And if your answer is nothing short of perfection, you’ll
need to brace yourself for a bumpy ride. To be honest, however, even if
your expectations are lower, the road is rarely found without
unexpected potholes.