Mengampuni…
Thursday, September 28th, 2006Ketika Karol
Wojtyla dulu masih mengajar di sebuah universitas di Polandia, ia
mempunyai mahasiswa yang sangat dekat dengannya yang bernama Adam Zielinski. Ia
tidak menyadari/ curiga bahwa sebenarnya muridnya itu adalah mata-mata dikirim
oleh Partai Komunis di pemerintahan Polandia baru pasca rezim Nazi, untuk
mencari-cari kesalahan yang bisa dipakai untuk menangkapnya. Namun, disepanjang
pengamatan spionase-nya itu, Zielinski tidak menemukan hal-hal subversif yang
dilakukan Wojtyla yang cukup sebagai bukti untuk menjadikannya tersangka dalam
keadaan politik yang belum menentu di negara itu. Yang terjadi sebaliknya, ia
justru makin mengenal Wojtyla sebagai seorang hamba Tuhan yang sungguh
mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan, juga bagi bangsa dan negaranya. Akhirnya
Zielinski meminta maaf dihadapan gurunya itu.
Melihat dan mendengar
pengakuan Zielinski yang mengakui kesalahannya dengan menyesal dan hancur hati,
Wojtyla mengatakan "if you made mistakes, you
already paid for them", maksudnya, penyesalannya yang diungkapkan itu
sudah cukup untuk membayar kesalahannya. Wojtyla, dengan gampang sekali
mengampuninya, ia sama sekali tidak bertanya mengapa ia melakukan perbuatan
jahat kepadanya, apa latar belakangnya, ataupun jengkel, marah dan dendam.
Zielinski tak pernah menduga bahwa ia mendapatkan maaf dan ampun dari gurunya
segampang itu, padahal dialah yang selama ini menyebabkan gurunya itu menderita
kesulitan akibat tekanan-tekanan partai komunis. Mengapa Wojtyla begitu mudah
mengampuninya? Sebab, harga dari jiwa yang menyesal itu lebih mahal, dan rasa
dendam sama sekali tidak sebanding dengan indahnya pertobatan. <!–
D(["mb","
Ini salah \nsatu kisah yang diceritakan dalam film "Karol: A \nMan Who Became Pope", kisah hidup Pope John Paul II, \nyang diperankan sangat bagus oleh aktor Polandia Piotr Adamczyk. Dan juga musik latar yang \nbagus dari salah satu komposer terbaik Ennio \nMorricone. Dan film ini cocok sebagai wujud \npenghormatan/ tribute bagi salah seorang \npemimpin terbaik Gereja, bahkan salah seorang pemimpin terbaik dunia, yang \nbanyak kita kenal keteladanan pribadinya.
\n
Pengampunan dosa adalah \nmisi utama Tuhan kita Yesus Kristus. Ia \ntelah mengajar kita untuk senantiasa mengampuni kesalahan sesama kita. Petrus \npernah bertanya kepada Yesus, berapa kali sebaiknya pengampunan itu dilakukan?, \nselengkapnya kita baca sbb :
* Matius 18:21-35 \nPerumpamaan tentang pengampunan
18:21 Kemudian datanglah Petrus dan \nberkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku \njika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata \nkepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan \nsampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama \nseorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24 \nSetelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang \nyang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak \nmampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak \nisterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. ",1]
);
//–>
Ini salah
satu kisah yang diceritakan dalam film "Karol: A
Man Who Became Pope", kisah hidup Pope John Paul II,
yang diperankan sangat bagus oleh aktor Polandia Piotr Adamczyk. Dan juga musik latar yang
bagus dari salah satu komposer terbaik Ennio
Morricone. Dan film ini cocok sebagai wujud
penghormatan/ tribute bagi salah seorang
pemimpin terbaik Gereja, bahkan salah seorang pemimpin terbaik dunia, yang
banyak kita kenal keteladanan pribadinya.
Pengampunan dosa adalah
misi utama Tuhan kita Yesus Kristus. Ia
telah mengajar kita untuk senantiasa mengampuni kesalahan sesama kita. Petrus
pernah bertanya kepada Yesus, berapa kali sebaiknya pengampunan itu dilakukan?,
selengkapnya kita baca sbb :
* Matius 18:21-35
Perumpamaan tentang pengampunan
18:21 Kemudian datanglah Petrus dan
berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata
kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan
sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama
seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang
yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak
mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak
isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. <!–
D(["mb","
18:26 Maka sujudlah \nhamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan \nkulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan \nhamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28 \nTetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang \nberhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, \nkatanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon \nkepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia \nmenolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya \nhutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu \nmenyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh \nmemanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh \nhutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33 \nBukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani \nengkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada \nalgojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35 Maka Bapa-Ku \nyang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu \nmasing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." \n
Petrus bertanya, sampai sejauh mana pengampunan itu harus diberikan \napabila seorang itu melakukan kesalahan terus menerus? Sampai tujuh kali kah? \nPetrus menganggap ini lebih baik dari tradisi Yahudi. Dalam Taurat juga \nditetapkan peraturan pembalasan yang setimpal (lihat, Keluaran 21:24 dan Matius \n5:38 ). Sangkanya, pengampunan sebanyak 7 kali sudahlah hebat dan cukup. Angka 7 \nadalah angka favorit dalam Alkitab. Dalam pemahaman orang Yahudi melambangkan \nperjanjian kekudusan dan pengudusan. Kandil (menorah/ kaki dian) memiliki \n"tujuh" lampu. Tindakan pendamaian dan pentahiran diselesaikan dengan "tujuh" \nkali percikan. Pengukuhan Sabat Yahudi termasuk Tahun Sabat, dan Tahun Yobel \nberdasarkan perhitungan angka "tujuh". Angka 7 adalah lambang kesempurnaan. \n",1]
);
//–>
18:26 Maka sujudlah
hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan
kulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan
hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang
berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu,
katanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon
kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia
menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya
hutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu
menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh
memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh
hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani
engkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada
algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35 Maka Bapa-Ku
yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu
masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
Petrus bertanya, sampai sejauh mana pengampunan itu harus diberikan
apabila seorang itu melakukan kesalahan terus menerus? Sampai tujuh kali kah?
Petrus menganggap ini lebih baik dari tradisi Yahudi. Dalam Taurat juga
ditetapkan peraturan pembalasan yang setimpal (lihat, Keluaran 21:24 dan Matius
5:38 ). Sangkanya, pengampunan sebanyak 7 kali sudahlah hebat dan cukup. Angka 7
adalah angka favorit dalam Alkitab. Dalam pemahaman orang Yahudi melambangkan
perjanjian kekudusan dan pengudusan. Kandil (menorah/ kaki dian) memiliki
"tujuh" lampu. Tindakan pendamaian dan pentahiran diselesaikan dengan "tujuh"
kali percikan. Pengukuhan Sabat Yahudi termasuk Tahun Sabat, dan Tahun Yobel
berdasarkan perhitungan angka "tujuh". Angka 7 adalah lambang kesempurnaan.
<!–
D(["mb","
Namun, Yesus mengangkat permasalahan itu melampaui perhitungan praktis \ndengan mengatakan "tujuh puluh kali tujuh \nkali". Ia mengkoreksi apa yang yang dikatakan Petrus. Namun, jumlah ini \nsebaiknya tidak diartikan secara harfiah \u003d 490kali. Maksud Yesus adalah, bahwa \nmurid Tuhan tidak mempunyai hak menentukan batas untuk mengampuni. Hal ini \nselaras dengan apa yang pernah dikatakan Yesus dalam doa yang diajarkanNya \ntentang pengampunan : dan ampunilah kami akan \nkesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada \nkami (Matius 6:12). Dengan kata lain, kesediaan Allah untuk mengampuni \nkita tergantung pada kesediaan kita mengampuni orang lain :
"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu \nyang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni \norang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15) \n
Selanjutnya, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang pengampunan. \nDikatakan bahwa ada seorang yang berhutang kepada raja sebanyak 10,000 Talenta. Pada umumnya satu \nTalenta bernilai 60 Mina atau 6,000 Dirham. 1 Dinar adalah 2 Dirham.
1 \nDinar adalah upah pekerja 1 hari (Matius 20:2,13). Katakanlah upah kerja minimum \nsekarang ini ± Rp. 25,000.-- per hari. Maka uang Rp 25.000,-- setara dengan 1 \nDinar Romawi, 1 Dirham adalah setengah Dinar, jadi 1 Dirham yaitu Rp 12,500.--. \n
1 Mina bernilai 100 Dirham atau Rp 1,250,000.-- .
Maka, 1 Talenta adalah \nmata uang dengan nilai 60 Mina atau 60 x Rp 1,250,000.-- \u003d Rp 75,000,000.--. \n
Dengan demikian, hutang yang dimaksud dalam Matius 18:24 di atas menurut \npengandaian ini adalah sebesar 10,000 x Rp 75,000,000.-- \u003d Rp 750,000,000,000.-- \n(tujuh ratus lima puluh milyar). Sebuah jumlah yang sangat besar. dan hamba itu \nmendapat mengampunan hutang dari Raja sebesar nilai itu. ",1]
);
//–>
Namun, Yesus mengangkat permasalahan itu melampaui perhitungan praktis
dengan mengatakan "tujuh puluh kali tujuh
kali". Ia mengkoreksi apa yang yang dikatakan Petrus. Namun, jumlah ini
sebaiknya tidak diartikan secara harfiah = 490kali. Maksud Yesus adalah, bahwa
murid Tuhan tidak mempunyai hak menentukan batas untuk mengampuni. Hal ini
selaras dengan apa yang pernah dikatakan Yesus dalam doa yang diajarkanNya
tentang pengampunan : dan ampunilah kami akan
kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada
kami (Matius 6:12). Dengan kata lain, kesediaan Allah untuk mengampuni
kita tergantung pada kesediaan kita mengampuni orang lain :
"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu
yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni
orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15)
Selanjutnya, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang pengampunan.
Dikatakan bahwa ada seorang yang berhutang kepada raja sebanyak 10,000 Talenta. Pada umumnya satu
Talenta bernilai 60 Mina atau 6,000 Dirham. 1 Dinar adalah 2 Dirham.
1
Dinar adalah upah pekerja 1 hari (Matius 20:2,13). Katakanlah upah kerja minimum
sekarang ini ± Rp. 25,000.– per hari. Maka uang Rp 25.000,– setara dengan 1
Dinar Romawi, 1 Dirham adalah setengah Dinar, jadi 1 Dirham yaitu Rp 12,500.–.
1 Mina bernilai 100 Dirham atau Rp 1,250,000.– .
Maka, 1 Talenta adalah
mata uang dengan nilai 60 Mina atau 60 x Rp 1,250,000.– = Rp 75,000,000.–.
Dengan demikian, hutang yang dimaksud dalam Matius 18:24 di atas menurut
pengandaian ini adalah sebesar 10,000 x Rp 75,000,000.– = Rp 750,000,000,000.–
(tujuh ratus lima puluh milyar). Sebuah jumlah yang sangat besar. dan hamba itu
mendapat mengampunan hutang dari Raja sebesar nilai itu. <!–
D(["mb","
Namun, \ndilain pihak, hamba yang telah diampuni hutangnya itu gagal memahami contoh dari \nRaja. Hamba itu tidak kenal belas kasihan, ia menuntut pelunasan hutang dari \nsesamanya yang berhutang kepadanya sebesar 100 Dinar (kira-kira Rp. \n2,500,000.--), jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan 10,000 Talenta \n(Rp. 750 milyar). Akhirnya, sikap yang tidak berbelas kasihan ini mengucilkan ia \ndari belas kasihan Allah.
Seorang yang ingin menerima belas kasihan dari \nAllah harus menunjukkan belas kasihan terhadap orang lain. Orang yang telah \nmengalami pengampunan dari Allah bertanggungjawab mengampuni orang lain. Inilah \npatokan dalam Kerajaan Surga. Raja itu menuntut seorang yang telah dikasihani \ndengan menghapus hutangnya, harus juga menunjukkan sikap yang sama, khususnya \nkarena pelanggaran yang dilakukan sesamanya itu tidak ada artinya jika \ndibandingkan hutang manusia kepada Allah. Pengampunan yang dimaksudkan oleh \nYesus harus juga tidak ada batasnya, Inti dari perumpamaan ini jelas bahwa orang \nyang tidak mengampuni tidak menerima pengampunan dari Allah. \n
Menyambung kisah Karol Wojtyla diatas, ketika sudah menjadi Paus, ia \njuga melakukan pengampunan yang dicatat dalam sejarah, seorang pemuda Turki \nMehmet Ali Agca pada 13 Mei 1981, \nmenembaknya di lapangan Santo Petrus. Setelah sembuh dari lukanya, ia bergegas \nmenemui pemuda itu. Ia merangkul dan memaafkan orang yang berniat membunuhnya \nitu.
Seorang yang telah mendapat pengampunan dari Allah karena \napa yang dilakukan oleh Kristus, wajib membuktikan terima-kasihnya dan \nketergantungannya kepada Dia dalam perlakuannya terhadap orang yang lain. \nSeorang pengikut Kristus yang baik menandai dirinya dengan kerelaan saling \nmengampuni.
Sabarlah kamu seorang \nterhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang \nmenaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, \nkamu perbuat jugalah demikian.",1]
);
//–>
Namun,
dilain pihak, hamba yang telah diampuni hutangnya itu gagal memahami contoh dari
Raja. Hamba itu tidak kenal belas kasihan, ia menuntut pelunasan hutang dari
sesamanya yang berhutang kepadanya sebesar 100 Dinar (kira-kira Rp.
2,500,000.–), jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan 10,000 Talenta
(Rp. 750 milyar). Akhirnya, sikap yang tidak berbelas kasihan ini mengucilkan ia
dari belas kasihan Allah.
Seorang yang ingin menerima belas kasihan dari
Allah harus menunjukkan belas kasihan terhadap orang lain. Orang yang telah
mengalami pengampunan dari Allah bertanggungjawab mengampuni orang lain. Inilah
patokan dalam Kerajaan Surga. Raja itu menuntut seorang yang telah dikasihani
dengan menghapus hutangnya, harus juga menunjukkan sikap yang sama, khususnya
karena pelanggaran yang dilakukan sesamanya itu tidak ada artinya jika
dibandingkan hutang manusia kepada Allah. Pengampunan yang dimaksudkan oleh
Yesus harus juga tidak ada batasnya, Inti dari perumpamaan ini jelas bahwa orang
yang tidak mengampuni tidak menerima pengampunan dari Allah.
Menyambung kisah Karol Wojtyla diatas, ketika sudah menjadi Paus, ia
juga melakukan pengampunan yang dicatat dalam sejarah, seorang pemuda Turki
Mehmet Ali Agca pada 13 Mei 1981,
menembaknya di lapangan Santo Petrus. Setelah sembuh dari lukanya, ia bergegas
menemui pemuda itu. Ia merangkul dan memaafkan orang yang berniat membunuhnya
itu.
Seorang yang telah mendapat pengampunan dari Allah karena
apa yang dilakukan oleh Kristus, wajib membuktikan terima-kasihnya dan
ketergantungannya kepada Dia dalam perlakuannya terhadap orang yang lain.
Seorang pengikut Kristus yang baik menandai dirinya dengan kerelaan saling
mengampuni.
Sabarlah kamu seorang
terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang
menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu,
kamu perbuat jugalah demikian.<!–
D(["mb"," (Kolose 3:13)
Amin. \n
Blessings in Christ,
Bagus Pramono
September 25, \n2006
\n
\n
\n
\n
\n
\n
\n
\n
\n\n \n __._,_.___\n \n
\n \n \n
dimana-mana,
Mungkin
Bahkan
Jika
Pernahkah
Apa
Pernahkah
Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mengapa menunggu?
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama,
Banyak
Seringkali
Di
Tidakkah
Kesepian
Jika
Hal