Archive for September, 2006

Mengampuni…

Thursday, September 28th, 2006
Mengampuni…

Ketika Karol
Wojtyla
dulu masih mengajar di sebuah universitas di Polandia, ia
mempunyai mahasiswa yang sangat dekat dengannya yang bernama Adam Zielinski. Ia
tidak menyadari/ curiga bahwa sebenarnya muridnya itu adalah mata-mata dikirim
oleh Partai Komunis di pemerintahan Polandia baru pasca rezim Nazi, untuk
mencari-cari kesalahan yang bisa dipakai untuk menangkapnya. Namun, disepanjang
pengamatan spionase-nya itu, Zielinski tidak menemukan hal-hal subversif yang
dilakukan Wojtyla yang cukup sebagai bukti untuk menjadikannya tersangka dalam
keadaan politik yang belum menentu di negara itu. Yang terjadi sebaliknya, ia
justru makin mengenal Wojtyla sebagai seorang hamba Tuhan yang sungguh
mendedikasikan hidupnya untuk Tuhan, juga bagi bangsa dan negaranya. Akhirnya
Zielinski meminta maaf dihadapan gurunya itu.
Melihat dan mendengar
pengakuan Zielinski yang mengakui kesalahannya dengan menyesal dan hancur hati,
Wojtyla mengatakan "if you made mistakes, you
already paid for them
", maksudnya, penyesalannya yang diungkapkan itu
sudah cukup untuk membayar kesalahannya. Wojtyla, dengan gampang sekali
mengampuninya, ia sama sekali tidak bertanya mengapa ia melakukan perbuatan
jahat kepadanya, apa latar belakangnya, ataupun jengkel, marah dan dendam.
Zielinski tak pernah menduga bahwa ia mendapatkan maaf dan ampun dari gurunya
segampang itu, padahal dialah yang selama ini menyebabkan gurunya itu menderita
kesulitan akibat tekanan-tekanan partai komunis. Mengapa Wojtyla begitu mudah
mengampuninya? Sebab, harga dari jiwa yang menyesal itu lebih mahal, dan rasa
dendam sama sekali tidak sebanding dengan indahnya pertobatan. <!–
D(["mb","
Ini salah \nsatu kisah yang diceritakan dalam film "Karol: A \nMan Who Became Pope", kisah hidup Pope John Paul II, \nyang diperankan sangat bagus oleh aktor Polandia Piotr Adamczyk. Dan juga musik latar yang \nbagus dari salah satu komposer terbaik Ennio \nMorricone. Dan film ini cocok sebagai wujud \npenghormatan/ tribute bagi salah seorang \npemimpin terbaik Gereja, bahkan salah seorang pemimpin terbaik dunia, yang \nbanyak kita kenal keteladanan pribadinya.

\n

Pengampunan dosa adalah \nmisi utama Tuhan kita Yesus Kristus. Ia \ntelah mengajar kita untuk senantiasa mengampuni kesalahan sesama kita. Petrus \npernah bertanya kepada Yesus, berapa kali sebaiknya pengampunan itu dilakukan?, \nselengkapnya kita baca sbb :

* Matius 18:21-35 \nPerumpamaan tentang pengampunan
18:21 Kemudian datanglah Petrus dan \nberkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku \njika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata \nkepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan \nsampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama \nseorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24 \nSetelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang \nyang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak \nmampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak \nisterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. ",1]
);

//–>
Ini salah
satu kisah yang diceritakan dalam film "Karol: A
Man Who Became Pope"
, kisah hidup Pope John Paul II,
yang diperankan sangat bagus oleh aktor Polandia Piotr Adamczyk. Dan juga musik latar yang
bagus dari salah satu komposer terbaik Ennio
Morricone
. Dan film ini cocok sebagai wujud
penghormatan/ tribute bagi salah seorang
pemimpin terbaik Gereja, bahkan salah seorang pemimpin terbaik dunia, yang
banyak kita kenal keteladanan pribadinya.

Pengampunan dosa adalah
misi utama Tuhan kita Yesus Kristus. Ia
telah mengajar kita untuk senantiasa mengampuni kesalahan sesama kita. Petrus
pernah bertanya kepada Yesus, berapa kali sebaiknya pengampunan itu dilakukan?,
selengkapnya kita baca sbb :

* Matius 18:21-35
Perumpamaan tentang pengampunan

18:21 Kemudian datanglah Petrus dan
berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata
kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan
sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama
seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang
yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak
mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak
isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. <!–
D(["mb","
18:26 Maka sujudlah \nhamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan \nkulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan \nhamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28 \nTetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang \nberhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, \nkatanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon \nkepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia \nmenolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya \nhutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu \nmenyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh \nmemanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh \nhutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33 \nBukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani \nengkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada \nalgojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35 Maka Bapa-Ku \nyang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu \nmasing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
\n

Petrus bertanya, sampai sejauh mana pengampunan itu harus diberikan \napabila seorang itu melakukan kesalahan terus menerus? Sampai tujuh kali kah? \nPetrus menganggap ini lebih baik dari tradisi Yahudi. Dalam Taurat juga \nditetapkan peraturan pembalasan yang setimpal (lihat, Keluaran 21:24 dan Matius \n5:38 ). Sangkanya, pengampunan sebanyak 7 kali sudahlah hebat dan cukup. Angka 7 \nadalah angka favorit dalam Alkitab. Dalam pemahaman orang Yahudi melambangkan \nperjanjian kekudusan dan pengudusan. Kandil (menorah/ kaki dian) memiliki \n"tujuh" lampu. Tindakan pendamaian dan pentahiran diselesaikan dengan "tujuh" \nkali percikan. Pengukuhan Sabat Yahudi termasuk Tahun Sabat, dan Tahun Yobel \nberdasarkan perhitungan angka "tujuh". Angka 7 adalah lambang kesempurnaan. \n",1]
);

//–>
18:26 Maka sujudlah
hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan
kulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan
hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28
Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang
berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu,
katanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon
kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia
menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya
hutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu
menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh
memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh
hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani
engkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada
algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35 Maka Bapa-Ku
yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu
masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Petrus bertanya, sampai sejauh mana pengampunan itu harus diberikan
apabila seorang itu melakukan kesalahan terus menerus? Sampai tujuh kali kah?
Petrus menganggap ini lebih baik dari tradisi Yahudi. Dalam Taurat juga
ditetapkan peraturan pembalasan yang setimpal (lihat, Keluaran 21:24 dan Matius
5:38 ). Sangkanya, pengampunan sebanyak 7 kali sudahlah hebat dan cukup. Angka 7
adalah angka favorit dalam Alkitab. Dalam pemahaman orang Yahudi melambangkan
perjanjian kekudusan dan pengudusan. Kandil (menorah/ kaki dian) memiliki
"tujuh" lampu. Tindakan pendamaian dan pentahiran diselesaikan dengan "tujuh"
kali percikan. Pengukuhan Sabat Yahudi termasuk Tahun Sabat, dan Tahun Yobel
berdasarkan perhitungan angka "tujuh". Angka 7 adalah lambang kesempurnaan.
<!–
D(["mb","

Namun, Yesus mengangkat permasalahan itu melampaui perhitungan praktis \ndengan mengatakan "tujuh puluh kali tujuh \nkali". Ia mengkoreksi apa yang yang dikatakan Petrus. Namun, jumlah ini \nsebaiknya tidak diartikan secara harfiah \u003d 490kali. Maksud Yesus adalah, bahwa \nmurid Tuhan tidak mempunyai hak menentukan batas untuk mengampuni. Hal ini \nselaras dengan apa yang pernah dikatakan Yesus dalam doa yang diajarkanNya \ntentang pengampunan : dan ampunilah kami akan \nkesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada \nkami (Matius 6:12). Dengan kata lain, kesediaan Allah untuk mengampuni \nkita tergantung pada kesediaan kita mengampuni orang lain :

"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu \nyang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni \norang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15) \n

Selanjutnya, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang pengampunan. \nDikatakan bahwa ada seorang yang berhutang kepada raja sebanyak 10,000 Talenta. Pada umumnya satu \nTalenta bernilai 60 Mina atau 6,000 Dirham. 1 Dinar adalah 2 Dirham.

1 \nDinar adalah upah pekerja 1 hari (Matius 20:2,13). Katakanlah upah kerja minimum \nsekarang ini ± Rp. 25,000.-- per hari. Maka uang Rp 25.000,-- setara dengan 1 \nDinar Romawi, 1 Dirham adalah setengah Dinar, jadi 1 Dirham yaitu Rp 12,500.--. \n
1 Mina bernilai 100 Dirham atau Rp 1,250,000.-- .
Maka, 1 Talenta adalah \nmata uang dengan nilai 60 Mina atau 60 x Rp 1,250,000.-- \u003d Rp 75,000,000.--. \n

Dengan demikian, hutang yang dimaksud dalam Matius 18:24 di atas menurut \npengandaian ini adalah sebesar 10,000 x Rp 75,000,000.-- \u003d Rp 750,000,000,000.-- \n(tujuh ratus lima puluh milyar). Sebuah jumlah yang sangat besar. dan hamba itu \nmendapat mengampunan hutang dari Raja sebesar nilai itu. ",1]
);

//–>

Namun, Yesus mengangkat permasalahan itu melampaui perhitungan praktis
dengan mengatakan "tujuh puluh kali tujuh
kali
". Ia mengkoreksi apa yang yang dikatakan Petrus. Namun, jumlah ini
sebaiknya tidak diartikan secara harfiah = 490kali. Maksud Yesus adalah, bahwa
murid Tuhan tidak mempunyai hak menentukan batas untuk mengampuni. Hal ini
selaras dengan apa yang pernah dikatakan Yesus dalam doa yang diajarkanNya
tentang pengampunan : dan ampunilah kami akan
kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada
kami
(Matius 6:12). Dengan kata lain, kesediaan Allah untuk mengampuni
kita tergantung pada kesediaan kita mengampuni orang lain :

"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu
yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni
orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
(Matius 6:14-15)

Selanjutnya, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang pengampunan.
Dikatakan bahwa ada seorang yang berhutang kepada raja sebanyak 10,000 Talenta. Pada umumnya satu
Talenta bernilai 60 Mina atau 6,000 Dirham. 1 Dinar adalah 2 Dirham.

1
Dinar adalah upah pekerja 1 hari (Matius 20:2,13). Katakanlah upah kerja minimum
sekarang ini ± Rp. 25,000.– per hari. Maka uang Rp 25.000,– setara dengan 1
Dinar Romawi, 1 Dirham adalah setengah Dinar, jadi 1 Dirham yaitu Rp 12,500.–.

1 Mina bernilai 100 Dirham atau Rp 1,250,000.– .
Maka, 1 Talenta adalah
mata uang dengan nilai 60 Mina atau 60 x Rp 1,250,000.– = Rp 75,000,000.–.

Dengan demikian, hutang yang dimaksud dalam Matius 18:24 di atas menurut
pengandaian ini adalah sebesar 10,000 x Rp 75,000,000.– = Rp 750,000,000,000.–
(tujuh ratus lima puluh milyar). Sebuah jumlah yang sangat besar. dan hamba itu
mendapat mengampunan hutang dari Raja sebesar nilai itu. <!–
D(["mb","

Namun, \ndilain pihak, hamba yang telah diampuni hutangnya itu gagal memahami contoh dari \nRaja. Hamba itu tidak kenal belas kasihan, ia menuntut pelunasan hutang dari \nsesamanya yang berhutang kepadanya sebesar 100 Dinar (kira-kira Rp. \n2,500,000.--), jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan 10,000 Talenta \n(Rp. 750 milyar). Akhirnya, sikap yang tidak berbelas kasihan ini mengucilkan ia \ndari belas kasihan Allah.

Seorang yang ingin menerima belas kasihan dari \nAllah harus menunjukkan belas kasihan terhadap orang lain. Orang yang telah \nmengalami pengampunan dari Allah bertanggungjawab mengampuni orang lain. Inilah \npatokan dalam Kerajaan Surga. Raja itu menuntut seorang yang telah dikasihani \ndengan menghapus hutangnya, harus juga menunjukkan sikap yang sama, khususnya \nkarena pelanggaran yang dilakukan sesamanya itu tidak ada artinya jika \ndibandingkan hutang manusia kepada Allah. Pengampunan yang dimaksudkan oleh \nYesus harus juga tidak ada batasnya, Inti dari perumpamaan ini jelas bahwa orang \nyang tidak mengampuni tidak menerima pengampunan dari Allah. \n

Menyambung kisah Karol Wojtyla diatas, ketika sudah menjadi Paus, ia \njuga melakukan pengampunan yang dicatat dalam sejarah, seorang pemuda Turki \nMehmet Ali Agca pada 13 Mei 1981, \nmenembaknya di lapangan Santo Petrus. Setelah sembuh dari lukanya, ia bergegas \nmenemui pemuda itu. Ia merangkul dan memaafkan orang yang berniat membunuhnya \nitu.

Seorang yang telah mendapat pengampunan dari Allah karena \napa yang dilakukan oleh Kristus, wajib membuktikan terima-kasihnya dan \nketergantungannya kepada Dia dalam perlakuannya terhadap orang yang lain. \nSeorang pengikut Kristus yang baik menandai dirinya dengan kerelaan saling \nmengampuni.

Sabarlah kamu seorang \nterhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang \nmenaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, \nkamu perbuat jugalah demikian.",1]
);

//–>

Namun,
dilain pihak, hamba yang telah diampuni hutangnya itu gagal memahami contoh dari
Raja. Hamba itu tidak kenal belas kasihan, ia menuntut pelunasan hutang dari
sesamanya yang berhutang kepadanya sebesar 100 Dinar (kira-kira Rp.
2,500,000.–), jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan 10,000 Talenta
(Rp. 750 milyar). Akhirnya, sikap yang tidak berbelas kasihan ini mengucilkan ia
dari belas kasihan Allah.

Seorang yang ingin menerima belas kasihan dari
Allah harus menunjukkan belas kasihan terhadap orang lain. Orang yang telah
mengalami pengampunan dari Allah bertanggungjawab mengampuni orang lain. Inilah
patokan dalam Kerajaan Surga. Raja itu menuntut seorang yang telah dikasihani
dengan menghapus hutangnya, harus juga menunjukkan sikap yang sama, khususnya
karena pelanggaran yang dilakukan sesamanya itu tidak ada artinya jika
dibandingkan hutang manusia kepada Allah. Pengampunan yang dimaksudkan oleh
Yesus harus juga tidak ada batasnya, Inti dari perumpamaan ini jelas bahwa orang
yang tidak mengampuni tidak menerima pengampunan dari Allah.

Menyambung kisah Karol Wojtyla diatas, ketika sudah menjadi Paus, ia
juga melakukan pengampunan yang dicatat dalam sejarah, seorang pemuda Turki
Mehmet Ali Agca pada 13 Mei 1981,
menembaknya di lapangan Santo Petrus. Setelah sembuh dari lukanya, ia bergegas
menemui pemuda itu. Ia merangkul dan memaafkan orang yang berniat membunuhnya
itu.

Seorang yang telah mendapat pengampunan dari Allah karena
apa yang dilakukan oleh Kristus, wajib membuktikan terima-kasihnya dan
ketergantungannya kepada Dia dalam perlakuannya terhadap orang yang lain.
Seorang pengikut Kristus yang baik menandai dirinya dengan kerelaan saling
mengampuni.

Sabarlah kamu seorang
terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang
menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu,
kamu perbuat jugalah demikian.<!–
D(["mb","
(Kolose 3:13)

Amin. \n

Blessings in Christ,
Bagus Pramono
September 25, \n2006

\n

 

\n

 

\n

http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p\u003d1628#1628

\n

 

\n

 

\n

 

\n

\n

\n\n \n __._,_.___\n \n

\n \n \n Messages in this topic (1)\n \n \n \n Reply (via web post)\n | \n \n Start a new topic \n

\n \n \n

\n ",1]
);

//–> (Kolose 3:13)

Amin.

Blessings in Christ,
Bagus Pramono
September 25,
2006

http://www.sarapanpagi.org/viewtopic.php?p=1628#1628

Cinta Online

Wednesday, September 27th, 2006

Cinta Online
                           
                         
               
               
                  JAWABAN.com
- Undangan kawin menumpuk di meja saya. Tampaknya banyak sekali teman
yang menikah di bulan-bulan ini. Tapi apakah saya bisa ikut merasakan
cinta yang tengah bertaburan dimana-mana itu? Hm, saya rasa tidak.
Ditengah semuah kemeriahan pernikahan itu, saya sadar bahwa saya
sendiri semestinya sudah menemukan jodoh saya dan sudah menikah. Saya
sudah kerja dan cukup mapan namun belum menemukan pasangan hidup. Saya
sudah cari kemana-mana. Kemana mana! Eits, tunggu sebentar. Mungkin ada
satu yang belum saya coba… chatting online!

Mencari jodoh melalui komputer bukan lagi fenomena baru. Semenjak internet menjadi permainan biasa dimana-mana,
perjodohan lewat alam maya ini juga menjadi hal biasa. Dua orang di
wilayah manapun bisa berkomunikasi lewat benda elektronik didepan
mereka, saling mengenal, dan seterusnya. Apakah ini hal yang benar atau
salah?

Jika itu benar, mengapa banyak orang yang mengatakan
bahwa itu omong kosong dan merupakan sebuah permainan yang berbahaya?
Namun jika itu salah, begitu banyak orang-orang disekitar kita yang
melakukannya dan menemukan keberhasilan dan pernikahan mereka. Padahal
itu semua dimulai hanya dari surat yang terkirim lewat email saja. Lalu
bagaimana cara memandang cinta maya ini?

Pertama, sebenarnya
tidak ada salahnya mencari jodoh di internet asalkan dilakukan dengan
kesadaran penuh akan resiko yang ada, dilakukan dengan maksud yang
murni, dan dilakukan bukan karena tinggal itu “harapan satu-satunya”.

Kedua,
seperti yang sudah disebut, mencari jodoh di internet memang paling
beresiko. Tidak ada yang tahu dengan siapa kita sedang berkomunikasi.
Dia bisa saja mengidap penyakit jiwa, menikah, atau lainnya. Karena
itu, pilih wadah yang tepat dan tidak sembarangan untuk berkomunikasi
dengan orang baru melalui internet. Jika perlu, benar-benar pilih yang
terbaik saja sesuai anjuran teman-teman anda.

Ketiga,
jika anda akhirnya bertemu dengan orang yang selama ini berkomunikasi
dengan anda lewat online, pastikan bahwa pertemuan pertama itu
menghasilkan sesuatu. Gali apa yang bisa digali dalam pertemuan pertama
dan sesuaikan dengan bayangan anda tentang pribadinya sebelum pertemuan
itu terjadi. Tapi satu hal, siap-siaplah untuk kecewa jika orang yang
datang berbeda dari yang anda harapka. Toh, hidup ini memang penuh
kejutan.

Keempat, yakinkan bahwa anda sudah mengikutsertakan
Tuhan dalam perjodohan online ini. Jika anda berjalan bersamaNya,
segala sesuatu kan tetap dalam kendaliNya.

Tuhan bukanlah Tuhan
yang tradisional dan Ia-pun kreatif sehingga Ia punya segudang cara
untuk mempertemukan anda dengan jodoh anda, termasuk dengan internet
sekalipun. Karena itu selama anda optimis, positf dan punya niat baik,
jalan maju saja. Online, siapa takut?
(liv)

                              

Sumber: cbn

Tulis Saja!

Friday, September 22nd, 2006

Tulis Saja!
                           
                         
               
               
                  JAWABAN.com
- Jika ada seseorang yang bertanya kepada anda hari ini, bagaimana anda
telah bertumbuh dan berubah selama enam bulan terakhir, apakah anda
dapat dengan cepat menjawabnya? Terlalu mudah bagi kita untuk melupakan
hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita, apa saja yang kita pikirkan
dan rasakan selama kita mengalami peristiwa-peristiwa tertentu, dan
bagaimana Tuhan bekerja di masa lalu, bagaimana Dia memberi kita
harapan untuk masa depan. Hidup anda menuturkan cerita yang unik,
sebuah kisah nyata! Menuliskan dan mengabadikan kisah hidup anda
merupakan sebuah cara untuk mengenal diri anda sendiri dengan lebih
baik dan memantau perkembangan kerohanian dan kedewasaan anda.

Mungkin
anda menyimpan catatan di sebuah buku harian di saat-saat tertentu
dalam hidup anda. Namun apakah anda mengabadikan sebagian besar
kehidupan anda di situ? Ketika anda menggali kembali dan membacanya,
bisakah anda memberitahukan apa yang anda pikirkan di saat ini pada
tahun lalu? Apa tujuan-tujuan anda, dan apakah anda telah mencapainya?
Dimana perjalanan anda dengan Tuhan bulan lalu, dan bagaimana perubahan
serta perkembangannya?

Jika anda mempunyai buku harian yang
hanya berisi peristiwa-peristiwa sederhana yang membosankan, bacalah
beberapa tips di bawah ini untuk mendapatkan ide bagaimana anda dapat
mengembangkan teknik-teknik menulis buku harian dan menggunakannya
untuk mewujudkan kisah pribadi anda.

Memulai

Apa tujuan anda?
Mungkin
gambaran pertama yang ada di benak anda adalah buku tebal dengan gembok
dan kunci kecil, namun buku harian bisa saja terlihat berbeda bagi
setiap orang. Beberapa orang menggunakan buku berisi lembaran-lembaran
bergaris yang kosong yang disatukan dengan kawat spiral. Yang lain
menggunakan buku dengan lembaran polos tanpa garis dengan cover buatan
sendiri. Ada juga yang menggunakan buku semacam kliping kertas
loose-leaf sehingga mereka bisa mengkategorisasikan tulisan dan
pemikiran mereka.

Apa pendekatan anda?
Banyak orang
merasa dibatasi dengan gaya pendekatan lama “dear diary”. Ini memang
pendekatan umum yang biasa digunakan, namun jangan sampai anda dibatasi
dengan definisi tersebut. Anda dapat menggunakan buku harian anda untuk
merefleksikan apapun, puisi, gambar, daftar, apapun!

Tips dan Saran

Jangan
meng-edit sementara anda sedang menulis. Ini adalah tempat anda untuk
menjadi apa adanya dan jujur, dengan diri anda sendiri dan dengan
Tuhan. Kadang menuliskan pergumulan terdalam anda dapat menolong
memperjelas hal-hal yang terjadi dan menyiapkan pikiran anda untuk
mendengar Tuhan.

Tuliskan doa-doa anda. Jika anda berdoa dalam
hati, anda akan sangat mudah terganggu dan kehilangan fokus. Cobalah
menulis doa-doa anda, bayangkan saja anda sedang menulis surat kepada
Tuhan. Ini juga akan menolong anda merekam bagaimana Tuhan bekerja di
sepanjang perjalanan hidup anda. Anda dapat melihat masalah yang anda
alami di belakang dan melihat bagaimana Tuhan telah melakukan
perubahan-perubahan serta membantu anda bertumbuh sejak saat itu!

Latihlah
diri anda untuk menulis setiap hari. Ini adalah cara terbaik untuk
merekam berbagai pemikiran, perasaan, dan peristiwa secara akurat. Jika
anda menulis hanya jika anda merasa senang atau merasa sedih, anda
tidak akan mendapatkan gambaran yang jelas dan utuh. Bahkan
jika anda hanya bisa menulis catatan yang paling sederhana sekalipun,
teruslah menulis setiap hari agar anda terbiasa. Cepat atau lambat anda
akan merasakan bahwa menulis catatan harian bisa sama otomatisnya
dengan kebiasaan anda menggosok gigi.

Jangan kuatir tentang tata
bahasa dan hal-hal rinci yang berhubungan dengan aturan-aturan
penulisan yang anda gunakan. Buku harian itu untuk anda, dan sudah
seharusnya menjadi sesuatu yang membuat anda senang melakukannya, bukan
seperti pekerjaan rumah yang menjadi kewajiban tidak menyenangkan. Jadi
matikan suara guru bahasa di otak anda dan tulislah sesuka anda dan
sebebas mungkin!

Lakukan dengan cara anda. Tidak ada cara yang
benar atau salah dalam menulis buku harian. Jika anda suka
mengilustrasikan perasaan anda dengan gambar sketsa atau dengan puisi,
lakukan saja. Jika anda suka membuat daftar, buat saja di buku harian
anda. Selagi anda mulai menulis buku harian, mungkin anda akan
bereksperimen dengan beberapa bentuk penulisan sebelum anda menemukan
gaya yang paling anda sukai. Tidak apa-apa! Ini adalah kisah anda, dan
memang tidak seharusnya sama dengan orang lain.

Temukan tempat
yang aman untuk menyimpan buku harian anda. Jangan meletakkannya di
tempat yang mudah ditemukan oleh orang lain di rumah anda. Mungkin juga
anda mau menuliskan peringatan di halaman pertama buku anda bahwa buku
itu adalah privasi anda.

Pernahkah anda memikirkan bahwa “buku
harian” dan “perjalanan” sangat berkaitan? Menjalani kehidupan di dunia
ini bersama Tuhan, Pencipta alam semesta, adalah perjalanan paling
menakjubkan yang anda alami! Setiap hari adalah selembar lagi halaman
baru yang penuh harapan. Tuliskan kisah hidup anda dan renungkan
hal-hal hebat yang Tuhan lakukan!

Jika
anda suka membuat beberapa kategori dalam buku harian anda, cobalah
beberapa ide berikut ini untuk membagi area-area kisah hidup yang anda
tulis:
Doa-doa: Tuliskan doa-doa anda di sini, periksalah
setiap minggu dan pastikan anda memperhatikan bagaimana cara Tuhan
menjawab doa anda.
Tujuan: Perubahan apa yang ingin anda
lakukan? Hal-hal apa saja yang ingin anda capai? Tuliskan juga rencana
untuk mewujudkan setiap tujuan dan keinginan anda, karena tujuan tanpa
rencana seperti sebuah mobil tanpa mesin.
Mimpi: Pernahkan
anda bangun di pagi hari dan masih mengingat mimpi anda semalam lalu
kemudian melupakannya begitu saja? Cobalah mencatat ringkasan mimpi
anda saat anda terbangun. Bisa jadi sangat menyenangkan saat melihat
kemungkinan bagaimana mimpi-mimpi kita berhubungan anat tidak
berhubungan dengan kehidupan nyata kita.
Peredam Emosi:
Hampir semua orang pernah mengatakan sesuatu saat mereka sedang berada
di puncak emosi kemarahan mereka dan menyesalinya setelah itu. Sebelum
anda menumpahkan emosi anda saat itu juga dan merusak hubungan-hubungan
anda, cobalah menuliskan perasaan anda. Kadang sangat membantu jika
anda menuliskannya sebagai bentuk surat yang tidak terkirim. Tuliskan
apa saja yang hendak anda katakan kepada orang tersebut dalam bentuk
surat dan tempelkan pada buku harian anda sehingga anda bisa
mendoakannya dengan pikiran yang jernih dan kepala dingin.
Kenangan:
Bagaimana anda bisa mengingat tahun-tahun yang anda lalui jika anda
tidak mencatatnya di buku harian? Saat anda ingat sesuatu yang penting
bagi anda dalam perjalanan kehidupan anda, tuliskanlah! Kenangan dan
rekaman ini kadang bisa menjadi guru yang baik, yang sering menunjukkan
kepada kita sesuatu yang mungkin dapat menolong kita untuk memahami
diri kita sendiri dengan lebih baik di saat ini. Satu hari nanti
mungkin anda juga ingin membagikan saat-saat istimewa anda itu dengan
anak dan cucu anda.

Jadi, apakah sekarang anda masih berpikir
bahwa buku harian hanya untuk orang-orang yang suka menulis atau hanya
untuk orang-orang melankolis?(fis)

                              

Sumber: briomag

Waktu Sempurnanya Tuhan

Friday, September 22nd, 2006

Waktu Sempurnanya Tuhan
                           
                         
               
               
                  JAWABAN.com
                              - Yakub
cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: "Aku mau bekerja padamu tujuh
tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu." (Kejadian 29:18)

Pernahkah
kamu menemui seseorang dalam suatu pertemuan dan sesuatu percikan
terbang saat itu? Kamu memperhatikan bukan hanya warna mata orang itu
namun juga kilauan di matanya yang tampaknya mengundang kamu untuk
mengeksplorasi orang itu lebih dalam lagi. Itulah yang terjadi antara
Yakub dan Rahel. Kejadian 29:17 mengatakan bahwa Rahel begitu menawan
dalam penampilan dan juga cantik. Yakub jatuh cinta begitu dalam pada
Rahel hingga ia bersedia bekerja buat ayah sang gadis selama tujuh
tahun hanya untuk menikahinya.

Jika kamu dihadapkan pada
situasi Yakub, maukah anda bekerja selama tujuh tahun untuk seorang
yang kamu cintai? Coba pikirkan kembali apa yang kamu kerjakan tujuh
tahun yang lalu. Apakah kamu bekerja pada pekerjaan yang sama seperti
pekerjaan kamu saat ini? Menghadiri gereja yang sama? Berkumpul dengan
orang yang sama?. Kehidupan kita berubah banyak selama tujuh tahun
terakhir, bukankah begitu?

Bayangkan apa yang Rahel harus
rasakan. Dia menemukan pria yang dia ingin nikahi dan kemudian harus
sering berada disekelilingnya sepanjang tujuh tahun berikutnya tanpa
bisa menikahinya. Dia pasti berjuang dengan kesangsian tentang apakah
mereka akan menikah. Kemudian, ketika waktu akhirnya datang, dia
mungkin saja mengalami kehancuran ketika menemukan bahwa ayahnya telah
menipu pria yang dicintainya dengan menikahkan pria idamannya pada
saudara perempuannya sendiri, Lea.

Apa
yang Rahel mungkin tidak mengerti pada saat itu adalah bahwa Tuhan pada
akhirnya membawa Juruselamat pada dunia melalui darah keturunan antara
Yakub dan Lea. Yesus adalah keturunan dari pernikahan yang didasarkan
atas kebohongan – paling tidak pada tingkatan yang mendunia – namun
Tuhan memiliki rencana yang lebih besar. Rahel pada akhirnya menikahi
Yakub dalam waktu terbaiknya Tuhan.

Tuhan mengarang peristiwa
dalam kehidupan kita untuk menyajikan kemuliaanNya. Seperti halnya
Rahel, kita tidak tahu waktu Tuhan untuk masa depan kita, namun kita
dapat mempercayai bahwa seperti halnya Tuhan tahu apa yang sedang Dia
kerjakan untuk Rahel, Dia juga tahu apa yang Dia kerjakan bagi hidup
kita.

Menggali Lebih Dalam Kejadian 29:18

1. Apakah kamu pernah jatuh cinta pada seseorang hanya saja Tuhan mengatakan padamu untuk menunggu pernikahan?
2. Pernahkah kamu menanyakan tentang waktuNya Tuhan? Jelaskan…
3. Apa yang kamu lakukan selama periode penantian?
4. Pernahkah
kamu berpikir tentang gambaran besarnya? Bahwa Tuhan sedang bekerja
mengarang peristiwa dalam kehidupan kamu untuk kemuliaanNya? Atau anda
justru lebih terfokus pada diri sendiri? Jelaskan…
5. Bagaimana ayat
ini bisa mengubah jalan hidup kamu dalam menangani hubungan di masa
depan jika Tuhan mengatakan pada kamu untuk menunggu pernikahan? (nat)

                              

Sumber: Lee Warren - CBN

Knowing What Love Is

Friday, September 22nd, 2006

Knowing  What Love Is
                           
                         
               
               
                  JAWABAN.com
                              - Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,
Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,
Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,
Mereka yang mencintai, menyebutnya rencana Tuhan.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.
Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya.
Alasan
yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kita tetap harus percaya
bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih
baik.

Mengapa menunggu?
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai,
kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian itu.

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan duhulu,
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu,
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.
Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
Tetap
lebih baik menunggu orang yang tepat, Karena hidup ini terlampau
singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah, karena menunggu
mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.

Perlu kau ketahui bahwa
Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang sejati terus bertumbuh selama kehidupan.

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama,
Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal - iman, keberanian, dan
pengharapan
penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.
Pada akhirnya. Tuhan dalam segala hikmat-Nya, meminta kita menunggu,
karena alasan yang penting.

“Lalu berkatalah manusia itu:
"Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan
dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang
laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan
isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:23-24)
(joe)

                              

Sumber: cbni

Tujuh Kesalahan Umum Dalam Hubungan Lawan Jenis

Friday, September 22nd, 2006

Tujuh Kesalahan Umum Dalam Hubungan Lawan Jenis
                           
                         
               
               
                  JAWABAN.com
- Bagi beberapa orang, menjalin hubungan dengan lawan jenis merupakan
hal yang mudah. Namun tidak sedikit orang yang mengalami masalah serius
dalam hal ini, yang sebagian besar disebabkan karena kurangnya
pemahaman yang benar. Berikut ini 7 kesalahan umum yang sering terjadi:

1. Kita salah mengartikan perhatian dari lawan jenis

Seringkali,
dibawah tekanan rasa frustasi atau putus asa yang sering dialami saat
kita ingin memiliki pasangan atau menikah, banyak lajang yang bereaksi
secara berlebihan terhadap perhatian apapun dari lawan jenis, terutama
jika seseorang tampak menarik bagi mereka. Misalnya, jika seorang pria
melihat wanita dua kali, wanita itu bisa berpikir bahwa pria ini
menyukainya. Sedang jika seorang wanita duduk dengan seorang pria dalam
suatu acara, pria ini berpikir wanita itu memberinya “lampu hijau”.

Kesalahan
dalam mengartikan perhatian inilah yang sering menjadi masalah utama
bagi para lajang pria dan wanita untuk memiliki hubungan pertemanan
atau persaudaraan yang murni. Keduanya berjaga-jaga, mengamati dan
mengartikan sinyal-sinyal, daripada berpikir bahwa mereka dapat
menikmati percakapan dan keberadaan sebagai teman tanpa ketertarikan
romantis.

Banyak
lajang Kristen bahkan menikmati mengirim sinyal-sinyal lalu di kemudian
hari menyangkalnya. Bagaimanapun juga, sikap tersebut lahir dari ego
mereka, dengan berasumsi bahwa satu atau dua orang sudah berada dalam
jangkauan mereka, dan berpikir mungkin satu saat mereka akan dapat
mendekati orang tersebut, meskipun sebenarnya mereka tidak merasa
benar-benar tertarik. Mereka menyamarkan tindakan mereka dengan
mengatakan pada semua orang, bahkan juga di depan orang tersebut bahwa
mereka hanya berteman, agar perkataan itu dapat dipakai sebagai dalih
jika mereka ingin menjauh dari hubungan tersebut. Sinyal-sinyal yang
mereka kirimkan benar-benar menyebabkan salah paham, dan tindakan
tersebut jelas-jelas menyakiti hati orang lain dalam proses untuk
memberi makan ego mereka.

2. Kita berharap terlalu banyak dan bertahan terlalu lama dalam suatu hubungan

Bantulah
diri anda sendiri, dengan mengakui bahwa anda mempunyai ketergantungan
emosional yang kita sebut “cinta”, atau bahkan mengakui bahwa anda
benar-benar mencintai seseorang, namun akuilah dengan penuh kesadaran
bahwa anda sedang menjalani hubungan yang salah dan keluarlah dari sana.

Bagaimana
anda bisa keluar? Dengan mengambil langkah tegas, seperti yang Yesus
katakan dalam Matius 5:29-30. Jika anda sedang berada dalam suatu
hubungan dan anda diperlakukan dengan tidak hormat, sembrono, atau
tidak baik, maka itu adalah tanda bahwa anda telah bertahan terlalu
lama dan berharap terlalu banyak. Jika anda berharap dia akan berubah,
anda tidak tahu banyak tentang kecenderungan manusia. Selama dia bisa
tetap menjalani hubungan ini dengan memperlakukan anda seenaknya,
sepertinya sikapnya tidak akan berubah. Jika anda tidak bahagia dengan
perlakuan yang anda terima dari seseorang sebelum menikahinya, anda
bisa yakin bahwa setelah menikah, perlakuan yang anda terima akan sama
bahkan lebih buruk.

3. Kita tidak selalu pintar membaca sinyal berbahaya dalam suatu hubungan

Seringkali
para lajang memiliki pilihan-pilihan yang buruk dalam beberapa hubungan
yang mereka jalani, namun kelihatannya mereka tidak bisa melihat
sinyal-sinyal yang berbahaya, bahkan sering mereka hanya tidak mau
untuk melihatnya. Ingatlah bahwa saat emosi kita terlibat dalam suatu
situasi, kita bisa sangat mudah kehilangan perspektif. Anda tidak dapat
mempercayai emosi, karena begitu emosi mengalir, dan perasaan-perasaan
romantis mulai memenuhi kepala anda, anda dapat kehilangan perspektif
dalam waktu singkat.

Inilah beberapa sinyal yang berbahaya:

Perbedaan usia yang signifikan
Hal
ini bervariasi, bersifat individual, dan tergantung pada jarak usia
yang terlibat. Walaupun perbedaan usia tidak selalu menjadi suatu
masalah, namun ini adalah satu hal yang perlu dipertimbangkan dengan
sangat hati-hati.

Perbedaan latar belakang keluarga
Faktanya
tidak ada 2 keluarga yang benar-benar mirip, namun lihatlah dasarnya:
Nilai-nilai apakah yang diajarkan oleh kedua keluarga? Jenis hubungan
seperti apa yang ada di antara masing-masing anggota keluarga? Beberapa
keluarga sangat dekat satu sama lain sementara yang lainnya tidak.

Perbedaan prioritas kehidupan rohani
Jika
satu orang dalam sebuah hubungan mempunyai prioritas yang lebih tinggi
dalam kehidupan rohani dibanding pasangannya, ini adalah sebuah sinyal
yang benar-benar berbahaya dan tidak seharusnya diabaikan. Biasanya
jika anda terlibat dengan seseorang yang “temperatur” rohaninya dibawah
anda, anda tidak membawa mereka naik ke level anda, tapi anda yang akan
turun ke level mereka. Hal ini sudah sangat sering terjadi.

4. Kita terlalu cepat dan terlalu jauh terlibat secara fisik

Di
sinilah kita harus waspada terhadap filosofi dunia yang berusaha
mempengaruhi pikiran kita tentang aspek fisik dalam sebuah hubungan.
Kita telah diperingatkan dalam Roma 12:1-2, saat kita menganggap bahwa
hubungan seks sebelum menikah adalah wajar, kita akan berakhir seperti
dunia.

Jika anda tetap ingin menjaga kemurnian diri dalam
kehidupan seksual dan mempertahankannya untuk satu orang dari Tuhan,
bagaimanapun juga anda membutuhkan disiplin untuk menjaga kontak fisik
yang minimum. Anda tidak dapat mempercayai reaksi kimia tubuh anda,
sekali reaksi ini berjalan terlalu jauh, maka akan sangat sulit untuk
kembali mengendalikannya. Maka sangatlah penting untuk menjaga kontak
fisik tetap pada level minimum.

5. Kita berpikir bahwa satu-satunya persyaratan yang penting adalah pasangan kita seorang Kristen

Hanya
karena seseorang itu Kristen dan cukup baik, belum tentu bahwa dialah
satu-satunya orang yang dengannya kita akan bahagia dan menikah. Adalah
penting jika anda mempertimbangkan baik-baik tentang hubungan anda
sebelum memutuskan untuk menikah. Pertimbangkan bahwa emosi anda
terlibat dan karenanya mungkin perspektif anda tidak begitu terfokus,
mintalah pertimbangan lain dari orang-orang yang dapat dipercaya.
Lakukan apa yang dapat anda lakukan untuk mengetahui apa yang akan anda
jalani sebelum anda melangkah ke dalamnya, juga dengan
pertimbangan-pertimbangan apakah seseorang ini adalah pasangan yang
tepat untuk anda.

6. Kita membawa daftar kriteria tentang pasangan ideal dan menilai orang lain dengan egois dan terlalu cepat

Tidakkah
mengagumkan bahwa Tuhan kita sanggup berurusan dengan segala perbedaan
dan “keanehan” kita? Dia tidak mencari “robot” Kristen yang mempunyai
penampilan dan perilaku yang mirip dalam semua hal. Kita memang
mempunyai prinsip-prinsip Firman yang sama untuk diterapkan dalam
kehidupan kita, namun di antara prinsip-prinsip tersebut, terdapat
banyak ruang untuk keunikan individual dan kepribadian.

Banyak
lajang yang kelihatannya mempunyai daftar panjang kriteria untuk
pasangan yang potensial, dan alasannya mungkin sebagai reaksi dari
banyaknya pernikahan yang gagal di sekitar kita. Sepertinya mereka
mengamati kita dengan sangat jeli, memastikan bahwa kita dapat memenuhi
kebutuhan mereka. Mempunyai panduan dalam menjalin hubungan sangat
berguna untuk mencegah kita membuat keputusan yang berdasarkan emosi
semata. Namun menilai seseorang untuk alasan yang egois adalah sesuatu
yang terlalu jauh.

7. Kita berpikir bahwa keadaan apapun lebih baik daripada sendirian 

Kita
memang memiliki kebutuhan dasar untuk menjalin hubungan dengan orang
lain, namun tidak benar bahwa kesendirian adalah kondisi terburuk di
dunia. Perhatikan bahwa kesendirian tidak sama dengan kesepian. Banyak
orang takut sendirian karena bagi mereka kesendirian sama dengan
kesepian. Mereka belum belajar untuk mengisi waktu mereka dan mengalami
kesendirian sebagai waktu yang berharga dan menyegarkan untuk mereka.

Kesepian
adalah sebuah perasaan. Kita pasti pernah mengalaminya di saat-saat
tertentu. Namun menjalin hubungan dengan lawan jenis semata-mata hanya
untuk menggantikan rasa sepi itu adalah satu kesalahan besar. Ada
hal-hal yang lebih buruk dari kesepian, dan dengan kasih karunia Tuhan,
kita tidak perlu dikalahkan oleh rasa kesepian. Dia dapat mengambil
kesendirian kita dan mengubahnya menjadi waktu yang produktif dan indah
bersamaNya.

Walaupun anda sendirian, tidak berarti anda
adalah orang yang tidak cocok dengan lingkungan sosial. Jangan mau
tenggelam dalam kebohongan yang membuat kita putus asa. Saat kita
merasa putus asa, kita bertindak dengan irasional. Kenali kebutuhan
anda akan interaksi sosial dan rencanakan sesuatu. Anda tidak harus
berkencan untuk mendapatkan teman atau agar anda tidak merasa
sendirian. Bergabunglah dengan teman-teman dalam suatu komunitas dan
luangkan waktu anda untuk berada bersama-sama dengan mereka. Kenallah
dan terimalah mereka apa adanya, maka anda akan menemukan bahwa rasa
kesepian itu telah pergi.(fis)

                              

Sumber: newlife

Seek God’s Will Carefully When Choosing a Spouse

Wednesday, September 20th, 2006

Seek God’s Will Carefully When Choosing a Spouse
H. Norman Wright
Author

The
main thing concerns God’s will for your life and your potential spouse.
After all is said and done, just where does the will of God enter into
all of this discussion? It’s central, it’s primary, and it’s the most
important aspect.

Let’s consider some
of the steps involved in this process. The first step is desiring the
will of God for your life. In doing this it means surrendering your
life to God and asking Him to be the directing agent. …

A second step is practicing
obedience to God’s will in every area of life. "Your word is a lamp to
my feet and a light for my path" (Psalm 119:105, NIV).

The next step is developing
relationships with believers, because marriages tend to develop out of
existing relationships. This is a safeguard against marrying a
non-Christian. "But if we walk in the light, as He is in the light, we
have fellowship with one another … " (1 John 1:7, NIV).

A fourth guideline is to
look for the Holy Spirit to lead you. Acknowledge your dependence on
the Holy Spirit and be sensitive to His leading. Usually the Holy
Spirit’s prompting is quiet and gentle. "Those who are led by the
Spirit of God are the sons of God" (Romans 8:14, NIV).

Another step is to watch
what you allow into your heart as well as what you let out of your
heart. If you indulge in fantasies or explicit sexual material, these
can warp your perspective of what you are looking for. And developing
relationships based on flirtations and shallow or physical involvements
can keep you from finding the person you’re seeking. "Above all else,
guard your heart, for it is the wellspring of life" (Proverbs 4:23,
NIV).

One of the most difficult
steps is being willing to wait for God. We become impatient and take
matters into our own hands. When you wait not only is your faith
tested, but your motives undergo purification as well. It also builds
the character quality of maturity. "The testing of your faith develops
perseverance. Perseverance must finish its work so that you may be
mature and complete … " (James 1:3,4, NIV). Waiting overcomes the
erratic distortions that can be a part of moods and emotions. This
verse is our reminder: "Since ancient times no one has heard, no ear
has perceived, no eye has seen any God besides you, who acts on behalf
of those who wait for Him" (Isaiah 64:4, NIV).

Seek out the wisdom of other
individuals, such as friends and family. Even secular research has
shown the wisdom and value of doing this. "The way of a fool seems
right to him, but a wise man listens to advice" (Proverbs 12:15, NIV).
"A fool spurns his father’s discipline, but whoever heeds correction
shows prudence" (Proverbs 15:5, NIV).

Finally, remember that it is
the Lord who gives the gift of a wife or husband. Approach every
situation and decision with the question, "What is going to please the
Lord?" The psalmist described this in Psalm 37:4: "Delight yourself in
the Lord; and He will give you the desires of your heart." "He who
finds a wife finds what is good and receives favor from the Lord"
(Proverbs 18:22, NIV).

You may be asking, "But are
there any other guidelines or principles that I could follow to find
God’s will?" Here is another way of looking at this process.

Jim Dobson has suggested
some basic principles for recognizing God’s will for any area of one’s
life. These principles should be applied to any impressions that a
person might have regarding marriage.

Is the impression scriptural?
Guidance from God is always in accordance with His Word. If a Christian
is considering marrying a non-Christian, there is no use in praying for
God’s will; the Scripture is clear concerning this situation. In
searching the Scriptures, verses should be taken within context, not in
a random sampling.

Is is providential?
Every impression ought to be considered in light of providential
circumstances. Are necessary doors opening or closing? Is God speaking
through events?

Is the impression reasonable? Does the impression make sense? Is it consistent with the character of God to require it?

If a person has numerous
mixed feelings about marrying the other individual, if there is no
peace over the upcoming event, and if the majority of friends and
relatives are opposed to the wedding, the decision ought to be
reconsidered.

In yet a little different
way of looking at this, one counselor identifies five voices that the
believer can listen to for affirmation of his decision-making ability.
He shared these principles in one of his messages to his congregation.
No one single voice should carry the weight of choosing a life partner.
The first voice is that of Scripture itself. The balance that Scripture
brings to our attempts at choosing a life partner leads us to balance
all areas of our life. It is easy to be infatuated with many
individuals with whom we have come in contact. It is also easy to think
that we have fallen head over heals in love with those same
individuals. We can be attracted to believers and nonbelievers alike.
Scripture itself helps us to get a perspective on the kind of person
the believer is to marry. It clearly states: "Do not be bound together
with unbelievers; for what partnership have righteousness and
lawlessness, or what fellowship has light with darkness?" (2
Corinthians 6:14, NASB). The believer consequently has no real freedom,
except to choose a believer as his partner.

The second voice is that
"still small voice" which is God’s Spirit guiding us from within, that
inner feeling that says, "What you are about to do is OK." It is
important to remember that in determining God’s will for so important a
decision as the choice of a life partner, each voice is carefully
checked with the others.

The third voice is based
upon providential and experiential circumstances. This voice is heard
as we move through courtship and see more and more that this person may
truly be the partner God has called to be our companion through life,
the parent of our child, and the one who will provide for and nurture
us for a lifetime.

The fourth voice is often
locked in a cell constructed from our own emotions. It has been said
that when love comes in, reason flies out the door. We do need to give
deep and prayerful consideration to the individual whom we may choose,
and it our choice ultimately as to who will be our life partner.

The fifth voice may actually
be a chorus of voices. It is the affirmation provided by other
individuals who play significant roles in our lives.

Think about all of these
suggestions. Remember to integrate them with how you are going to build
compatibility with that special person.

Remember that God wants to
fulfill every plan and purpose He has for your life. Consider also a
few more words from Derek Prince: "Remember that from now on you do not
make your own decisions. You find out God’s decisions and make them
yours."

There is one more thing to remember, too: "God gives His best to those who leave the choice to Him."

http://www.crosswalk.com/community/singles/1127630.html

Time Flies..

Monday, September 18th, 2006

Time really flies… Dont u guys think so???
I have been in Singapore for 8 years and 2 months exactly…
I have left my sec sch for almost 6 years… wow.. thats fast.. Just met up with my sec sch teachers, ms Sng and Ms Chong, together with sugi, melda and vivi.. talk about how naughty we were last time.. Really great memories.. And noticed that the teachers are still treating us like kids, even though we are like 23 this year… ms chong still called us children… hehehe come to think about it, we really have grown..

Memories.. There are lots of memories which i do not wish to remember in this life, but somehow it just stick there in my mind.. Tried all kinds of things to get rid of it, but seems like I have not succeeded… haiz.. yeah its almost an year now.. but have i really got over him??? I dont know… i have been telling myself that yeah i have got over him.. i have moved on.. i have someone in mind, but are they really genuine? or am i escaping from reality? Haiz… I dont know…

Lord, I am surrendering my feeling, emotion to u.. Help me oh Lord to understand myself and really know what U want me to do in this life.. Lord, its been sometime since i cried the last time… Yeah, I dont know why my tears just flow like that today?? haiz.. mix feeling… feeling insecure, feeling mad at myself… haiz… Lord… guide me through these days..

Isi blog ku…

Saturday, September 16th, 2006

Teman2,
kalian yg pada suka baca blog ku, terima kasih.. dan semoga blog ku ini isa jadi berkat buat kalian yg baca… if kalian notice, aku banyak post artikel2 bagus di blog aku… mungkin kali ini aku o share di mana aku dapet artikel2 bagus tersebut.. :)

Seringnya seh aku copy paste dr JDC (Jawaban Dot Com) http://www.jawaban.com/index.asp

Or Sometimes dr Crosswalk http://www.crosswalk.com/

JAdi kalo misalkan kalian expecting new artikel dr blog ku ini, mungkin kalian isa langsung ke sumber web yg sering aku baca itu… itu lebih lengkap dan lebih banyak artikel2 bagusnya.. yg aku post di blog aku itu yg menurut aku bagus buat aku aza seh… dan since pas aku baca artikel itu aku diberkati, jadi aku juga pengen share ke temen2 sekalian.. gitu d…

kali ini, aku nga akan copy paste direct dr JDC or Crosswalk, cuma aku akan kasih link nya aza yg menurut aku bagus… soalnya banyak banget.. :P

Sering banget kayaknya kita ngerasa kalo Tuhan tuh jauhhhh banget dr kita… biasanya apa yg kita lakuin kalo misalkan itu yg kita rasain???? ato apa yg ada di pikiran kita???? kasus yg cukup common di antara kita2 kan ya… seberapa aktif kita pelayanan pun ada saat2 jenuh di mana kita tuh jadi cape dan ngerasa kayaknya Tuhan jauh…

http://www.jawaban.com/detail2005.asp?menu=1&id=195

itu artikel menulis tentang di saat2 ketika kita merasa Tuhan itu jauh, ketika aku baca itu, menyegarkan banget seh, semoga kalian yg membaca cuma isa menyegarkan hati rohani kita.. Yang jelas, menurut aku pribadi, Tuhan itu nga pernah menjauhkan diri dr kita, tapi kita yg menjauhkan diri dr Dia.. BABE tuh selalu di sana kok buat kita2 yg lagi butuh, so come to HIM with praise and thanksgiving.. ^_^

Trus artikel berikutnya tentang kejenuhan kerja di kantor… ya nga tau mesti thank God apa gmana, yg jelas sekarang gue udha nga kerja di kantor 9-6 lagi.. :P soalnya emank gue nga isa terikat dengan waktu yg seperti itu… anyway, mo bagiin aza ke temen2 yg emank lagi stress banget karena kerjaan di kantor, mungkin artikel ini isa bantu..

http://www.jawaban.com/detail2005.asp?menu=9&id=253

Ya intinya adalah berbagai cara untuk melawan kejenuhan itu sendiri seh.. :P

Eh ya mungkin ada dr temen2 yg tau kalo daku lagi aktif di satu forum kristen yg namanya JDC.. :) bukan mo promosi seh, cuma ya kalo misalkan temen2 lagi bosen apa gmana, mungkin isa coba visit2 dan liat sebenernya apa seh isi diskusinya.. dan sapa aza seh yg ada di dalem sana… jujur aza, ini adalah forum pertama yg aku ikutan aktif mengisi2.. dan so far cukup merasa diberkati dengan postingan2 yg ada dan juga isa melatih kita juga untuk bagaimana kasih pendapat2 yg emank objective.. so temen2 sekalian, kalo emank bosen, masuk aza ke forum ya… sekarang2 ini seh lagi jarang2nya masuk forum seh… lagi lumayan sibuk di luar jadinya jarang ada waktu bener2 untuk masuk ke forum dan kasih komen… :)

temen2 JDC, thank you ya buat semua input yg temen2 kasih.. Emank Tuhan kita itu ajaib isa bekerja di segala macem hal.. :)

Ya kayanya gitu dulu kali ya… ^_^
selamat membaca dan Tuhan berkati.. ^_^

Lima Kebutuhan Dasar Pasangan

Tuesday, September 12th, 2006

Lima Kebutuhan Dasar Pasangan
JAWABAN.com
- Dalam menjalin hubungan dengan pasangan kita, kadang kita merasa dan
berpikir bahwa kita secara otomatis telah memenuhi kebutuhan pasangan
kita. Padahal….

Sebagian
besar dari kita berasumsi bahwa kebutuhan kita adalah kebutuhan
pasangan kita juga. Kemudian di akhir cerita kita baru sadar bahwa
ternyata wanita dan pria punya kebutuhan yang jauh berbeda dalam sebuah
hubungan. Dari kurang lebih 700 pasangan yang diwawancarai oleh
sepasang konselor pernikahan bernama Gary and Barbara Rosberg, mereka
menemukan daftar 5 hal yang paling dibutuhkan oleh pria dan wanita
dalam sebuah pernikahan.

Hal nomor satu yang paling dibutuhkan
oleh wanita ialah DICINTAI TANPA SYARAT. Hanya Tuhan yang mampu
memenuhi kebutuhan ini. Karena itu, satu hubungan harus berdasarkan
kasih Tuhan yang sejati, agar hal ini bisa terpenuhi.

Jika
ini adalah hal pertama yang dibutuhkan oleh wanita, lalu apa yang
paling dibutuhkan pria? Ternyata pria pun memiliki kebutuhan yang sama
persis. Didalam hubungan, mereka butuh untuk dicintai tanpa syarat dan
diterima seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Pria
butuh diterima tanpa perlu banyak dihakimi atau dikritik.

Hal
nomor dua yang paling dibutuhkan oleh pria ialah KEINTIMAN SEKSUAL.
Terkejut? Jangan. Ini memang kebutuhan mendasar dan alamiah dari setiap
manusia tertutama pria. Kebutuhan nomor dua wanita juga ada hubungannya
dengan keintiman. Namun ada yang berbeda. Jika keintiman yang pria
maksud dapat dieja dengan 4 kata yaitu “s-e-k-s”, keintiman yang wanita
maksud ialah KEINTIMAN EMOSIONAL yang dapat dieja dengan “b-i-c-a-r-a”.
Karena itu setiap pasangan harus bisa pintar-pintar saling memberi dan
menerima dalam kebutuhan nomor dua ini. Pria butuh disentuh , sedangkan
wanita butuh untuk selalu berkomunikasi dan berbagi dengan pasangannya.
Inilah saatnya untuk menyadari bahwa wanita dan pria memang diciptakan
untuk saling melengkapi satu sama lain.

Hal nomor tiga yang
paling dibutuhkan oleh wanita ialah KEINTIMAN SPIRITUAL. Hubungan
dengan pasangan harus tercipta bukan hanya secara daging, tapi secara
spiritual juga. Jika ini tercipta, maka pasangan yang menikah akan bisa
setia terikat selamanya dengan Tuhan sebagai penyatu. JIka ini terjadi,
maka dalam menghadapi masalah seberat apapun dimana manusia sudah
kehabisan akal dan kehabisan cara untuk menghadapinya, maka Tuhanlah
yang akan bertindak. Keintiman spiritual seperti ini juga menjadi
kebutuhan oleh pria namun ada di posisi nomor lima.

Hal
nomor empat yang sama-sama dibutuhkan oleh pria maupun wanita ialah
DORONGAN dari pasangannya. Ternyata mengetahui bahwa pasangan kita
adalah orang yang akan selalu memberi motivasi dan dorongan terbesar
untuk kita adalah kebutuhan yang penting.

Hal nomor lima yang
paling penting bagi wanita ialah PERSAHABATAN. Bagi pria, hal ini
adalah nomor tiga terpenting dalam hidup mereka. Bukankah sangat
menyenangkan jika pasangan kita merupakan sahabat kita yang terdekat
pula? Teman curhat terbaik, orang yang paling bisa dipercaya, orang
yang paling mengerti dan orang yang paling bisa diandalkan dalam segala
hal dan setiap waktu. Bagi pria terutama, memiliki teman adalah hal
yang sangat penting. Banyak pria yang kadang memilih teman ketimbang
pasangan mereka. Alangkah baiknya jika pasangan mereka dapat berperan
sebagai teman terbaik mereka.

Itulah 5 hal yang paling
dibutuhkan oleh pria dan wanita dalam pernikahan. Dan sebagai tips
terakhir, sesibuk apapun aktivitas anda setiap hari sebagai individu,
sempatkan waktu minimal 15 menit untuk berpisah dari lingkungan ramai
bahkan dari anak-anak sendiri untuk menghabiskan waktu berkualitas
berdua saja! Suami bisa memeluk dan mencium istri sambil mendengar
(ingat, mendengar saja cukup, tidak perlu sampai berusaha menyelesaikan
masalah), dan istri pun bisa memberi kehangatan yang dibutuhkan
suaminya. Saling mengerti, saling memahami.(fis)

                              

Sumber: cbn