Beda antara Cinta dan Cocok
Sunday, February 11th, 2007JAWABAN.com
-
Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta – cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke mahligai pernikahan.
Masalahnya
adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk
menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan
keduanya.
Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang
diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan,
bukan cinta.
Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.
Biasanya
cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba hinggap
di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah "datang" karena sulit
sekali (meskipun mungkin) untuk membuat atau mengkondisikan diri
mencintai seseorang.
Setelah
cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke arah
orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut
berperan dalam proses pengemudian ini. Misalnya, kita bisa menyangkal
hasrat cinta karena alasan-alasan tertentu. Tetapi, jika tidak ada
alasan-alasan itu, kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya
mendekatkan diri dengan orang tersebut.
Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka.
Sebagai
contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan gadis atau
pria itu karena sabarannya, kebaikannya menolong kita, perhatiannya
yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau sikapnya yang
simpatik, dan sejenisnya. Dengan kata lain, setelah menyaksikan
kualitas tersebut di atas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang
sebelum kita bertemu dengannya kita sudah menyukai kualitas tersebut.
Misalnya,
memang kita mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita
yang lemah lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang
lain dan seterusnya.
Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada dirinya.
Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan.
Namun
khusus untuk pembahasan kali ini, saya membatasi lingkup cinta hanya
pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering
dianggap demikian. Saya berikan contoh.
Saya suka rumah yang
besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu saya cocok tinggal di
rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya tidak cocok tinggal di
rumah sebesar itu sebab saya bukanlah tipe orang yang rajin
membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat akan bertumbuh
kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di mana suka tidak
sama dengan cocok. Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan
saya yang berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya.
Namun
saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar
(tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan
dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu ocok buat saya;
yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita akan
melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.
Tatkala
kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu menyukainya,
dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada dirinya. Rasa suka
yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta) akan menutupi rasa
tidak suka yang lebih kecil dan — ini yang penting — cenderung
menghalau ketidakcocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak
awal masalah.
Ini yang acap kali terjadi dalam masa berpacaran.
Rasa
suka meniup pergi ketidakcocokan di antara kita, bahkan pada akhirnya
kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik dengan
kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap, "Saya menyukainya,
berarti saya (akan) cocok dengannya." Salah besar!
Suka tidak
sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok! Alias, kita
mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan kita.
Pada
waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, Ia menetapkan
satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan istri
manusia, yakni, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan
dengan dia." (Kejadian 2:18).
Kata "sepadan" dapat kita ganti
dengan kata "cocok." Tuhan tidak hanya menciptakan seorang wanita buat
Adam yang dapat dicintainya, Ia sengaja menciptakan seorang wanita yang
cocok untuk Adam.
Tuhan tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus cocok.
Menarik
sekali bahwa Tuhan tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai
prasyarat pernikahan. Tuhan sudah memberi kita petunjuk bahwa yang
terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah,
kita telah menggeser hal esensial yang Tuhan tunjukkan kepada kita
dengan cara mengganti kata "cocok" dengan kata "cinta." Tuhan
menginginkan yang terbaik bagi kita; itulah sebabnya Ia telah
menyingkapkan hikmat-Nya kepada kita.
Sudah
tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah ia cocok
denganku? Saya teringat ucapan Norman Wright, seorang pakar keluarga di
Amerika Serikat, yang mengeluhkan bahwa dewasa ini orang lebih banyak
mencurahkan waktu untuk menyiapkan diri memperoleh surat ijin mengemudi
dibanding dengan mempersiapkan diri untuk memilih pasangan hidup. Saya
kira kita telah termakan oleh motto, "Cinta adalah segalanya," dan
melupakan fakta di lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya.
Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita!
(rad)
Sumber: Dr. Paul Gunadi - artikel.sabda.org
