People Person VS People Pleaser

People Person VS People Pleaser
                            JAWABAN.com
                              - Pikirkan situasi berikut ini dan apa yang akan anda lakukan:

Anda
berjanji makan malam dengan pasangan sepulang kantor, tapi tiba-tiba
atasan anda meminta anda lembur untuk membantunya menyelesaikan sebuah
proyek penting. Apakah anda akan:
a.) Menolak atasan dengan sopan, karena anda tahu pasangan anda sudah memasak seharian dan anda ingin menghargai usahanya.
b.) Karena proyek ini penting bagi kantor, anda minta pegertian pasangan dan berjanji besok anda yang akan memasak untuk dia.
c.) Berkata “Ya.” Karena anda tidak ingin mengecewakan atasan.
d.) Menolak dengan hati tak enak daripada pasangan anda nanti cemberut semalaman.
e.) Sangat bingung karena apapun pilihan anda, salah satu akan merasa diabaikan dan sakit hati.

Jika
anda menjawab A atau B, kemungkinan besar anda adalah seorang “people
person” (anda membuat pilihan dengan mempertimbangkan kepentingan orang
lain selain kepentingan diri sendiri). Jika anda memilih C, D, atau E,
kelihatannya anda ada dalam kategori “people pleaser” (anda membuat
pilihan atas tekanan untuk menyenangkan seseorang). Sepintas kedua
jenis pribadi ini kelihatan serupa. Mereka sama-sama ramah,
menyenangkan, dan menjaga hubungan baik dengan semua orang. Tapi
motivasi mereka sesungguhnya berbeda.

Istilah “people person”
pertama kali muncul pada tahun 1990an untuk menggambarkan orang yang
ramah dan biasanya sangat bagus dalam bidang sales dan customer service.
Sekarang, istilah ini diterapkan secara lebih luas kepada setiap orang
yang senang berada bersama orang lain dan punya kemampuan tinggi untuk
bekerja dengan orang. Seorang “people person” akan termotivasi untuk
membangun hubungan yang kuat dan efektif dengan atasan, rekan, bawahan,
atau klien. Berkat kemampuan interpersonalnya yang baik, rata-rata dia
akan lebih sukses dalam pekerjaan. Bahkan pakar kepemimpinan John C.
Maxwell pun sampaimerasa perlu menulis satu buku khusus berjudul “Be A
People Person”.

Sedangkan
istilah “people pleaser” merujuk pada seseorang yang punya ciri-ciri
sebagai berikut: selalu berusaha menjadi apa yang diinginkan orang
lain, tidak berani mengemukakan pendapat, pantang berkata “tidak”,
seringkali setuju saja dengan pendapat orang lain, dan tidak tahu apa
yang sebenarnya dia inginkan. “People pleaser” biasanya tidak pernah
marah dan selalu siap diminta melakukan apa saja karena dia berpikir
hanya dengan begitu orang-orang akan menyukainya. Psikolog Harrier
Braiker bahkan menyebut “people pleaser” sebagai pengidap “penyakit
untuk selalu menyenangkan orang lain”. Sebagai orang Kristen, kita
memang diajar untuk menolong orang laindan membuat mereka bahagia. Tapi
berusaha menyenangka semua orang dengan segala cara adalah tindakan
seseorang yang putus asa dan rendah diri.

Bagaimana anda bisa menjadi seorang “people person” tanpa terjebak menjadi “people pleaser”?

Pertama-tama,
tentukan standar anda. Sampai sejauh apa anda bersedia mengkompromikan
batas-batas anda untuk menyenangkan orang lain. Untuk menentukan
standar, anda bisa belajar dari Paulus yang sempat dituduh sebagai
“people pleaser” oleh musuh-musuhnya, tapi dalam Galatia 1:10 dengan jelas dia mendeklarasikan standarnya: “Jadi
bagaimana sekarang, adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?
Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba
berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.
”. Selama anda menjadi “God pleaser” seperti Paulus, anda tidak akan pernah terjebak menjadi seorang “people pleaser”.(fis)

                              

Sumber: getlife

Leave a Reply