Archive for June, 2007

Yang Jomblo Nggak Boleh Stress

Tuesday, June 26th, 2007

Yang Jomblo Nggak Boleh Stress
JAWABAN.com
- Bulan Juni melompat kedalam kehidupan kami dan membawa setumpuk
undangan pernikahan. Untuk seorang lajang Kristen, kartu cantik yang
tersaji mengundang lebih dari sekedar sebuah acara pesta : pesta pernikahan dan juga pesta mengasihani diri.
Dengan pikiran itu dalam benak kita, bulan Juni adalah bulan yang
sempurna bagi kita, sebagai lajang Kristen, untuk menambahkan sejumlah
iman terhadap kehidupan yang terisi dengan berbagai tekanan.

Sebagai
seorang lajang dengan sejumlah tanggung jawab penuh tekanan, saya tahu
apa artinya “penderitaan akibat stress”. Sebagai seorang penulis,
pembicara, kolumnis, dan penyanyi, saya sesekali merasa begitu
terkoyak-koyak sehingga saya kuatir rambut saya mungkin saja sampai
rontok (Hanya becanda tentunya). Namun serius, saya telah belajar
bagaimana mengelola stress adalah sesuatu yang berat. Tapi saya
berharap untuk membuatnya jadi mudah untuk anda.

Ketika Saya Amat Tertekan

Ketika
saya merasa tertekan, itu karena ketidakseimbangan dalam kehidupan saya
: terlalu banyak hal untuk dilakukan dalam waktu yang sedikit!, Jadi,
sebagai seorang single, saya telah belajar bagaimana menangani diri
saya seperti seorang pasangan akan memperlakukan saya. Sebagai contoh,
banyak pasangan mengatakan satu sama lain ketika “cukup adalah cukup”.
Saya harus memasang batasan saya sendiri. Hal itu mendapatkan seni
tersendiri. Sebagai cara menyelamatkan diri, kita harus mempelajarinya.

Mengenai tanggung Jawab

Seringkali, orang yang telah menikah memakai pernikahan untuk keuntungan mereka. Mereka akan mengatakan : “Saya tidak tahu apakah suami/istri saya ingin saya melakukan hal ini. Saya akan bicara tentang ini padanya”. Kita sebagai seorang lajang Kristen tidak punya keuntungan seperti itu.

Namun,
coba terka? Kita punya keuntungan yang lebih gemuk daripada yang
dilakukan orang yang menikah!. Kita dapat mengatakan, dengan ketulusan
yang besar, bahwa kita sebagai seorang lajang secara istimewa berada
dekat dengan Tuhan dan perlu untuk bicara seputar isu ini dengan Tuhan.
Bagi saya sendiri, itulah kebenaran.

Saya telah mengumpulkan
10 tips untuk lajang yang mengalami stress atau tekanan. Sepanjang
berkaitan masalah itu, saya memformulasi 5 tips untuk lajang yang ingin
menumbuhkan kemampuan melalui pelayanan dimana pada akhirnya akan
menolong mereka menjadi pasangan yang lebih baik.

Apakah
kesendirian meninggalkan masalah kelembutan? Perkataan yang empuk dan
renyah di mulut kita? Jika demikian, ada berita baik : kita dapat
menikmati potongan kehidupan dalam Tuhan sementara kita masih melajang
dan ketika kita menikah.

Segera dapatkan bagian dalam
pelayanan, petualangan, kesenangan yang sederhana, dan kesenangan yang
berpusatkan pada Tuhan dan isilah kehidupan lajang kita dengan bumbu
yang baik! Jangan tunggu bumbu itu ada sementara kita menanti pasangan
itu muncul.

Tips Bagi Lajang untuk Mengikis Stress

1. Menjadi seperti anak-anak!
Berhenti mencoba “belagak dewasa”. Kembali seperti anak-anak – seperti
anak tanpa dosa dan percaya pada Tuhan dengan sepenuh hati. Jika perlu,
ketika tidak ada seorangpun yang memperhatikan, mainkan kembali mainan
anak-anak.

2. Lari ke tempat yang sunyi. Idealnya satu tempat yang dikelilingi dengan keindahan alam. Matikan hp, laptop, iPod dll. Hanya nikmati alam saja.   

3. Corat Coret.
Tingkat kemampuan tidaklah masalah. Poinnya adalah untuk
mengekspresikan diri anda secara bebas. Sebagai contoh : gambarlah apa
saja di karton yang lebar.

4. Lakukan sesuatu yang benar-benar menyenangkan.
Jangan menunggu kencan. Untuk sejumlah orang, ini artinya menghadiri
event olah raga atau pemutaran film. Pilihlah aktivitas yang
menyenangkan dengan kebutuhan tanggung jawab yang paling minim.

5. Bicarakan dengan anggota keluarga atau teman. Jadilah selektif. Sejumlah orang yang tidak tepat justru menciptakan stress. 

6. Berinteraksi dengan hewan peliharaan.
Jika anda tidak punya hewan peliharaan, pergilah ke teman atau anggota
keluarga yang memiliki hewan peliharaan, burung atau ikan hias.

7. Tolonglah orang lain yang memiliki stress lebih berat dari anda.
Itu benar-benar akan meminimalkan perasaan yang dalam terhadap masalah
ketika seseorang melihat orang lain dengan kesulitan yang lebih berat.
Tidak perlu dengan cara yang rumit, kartu ucapan simpati atau telepon
bisa dilakukan.

8. Berdoalah melalui ayat dalam kitab Mazmur. Untuk saya, ini akan mengurangi stress yang memicu depresi.

9. Kurangi begadang, perbanyak jam tidur.
Ya, anda membaca sesuatu yang benar!. Ini pada kenyataannya
menyelamatkan waktu dalam jangka panjang. Setelah semuanya, kita akan
jauh lebih fokus dan energik ketika kita memiliki cukup tidur.

10. Konsumsi vitamin B-Kompleks dan Kalsium.
Dua suplemen ini yang benar-benar menolong saya. Pastinya, lakukan
konsultasi dengan paramedis atau dokter anda. Lalu, belilah suplemen
itu di toko obat terdekat.

11. Rawat tubuh anda.
Pakailah sepatu yang menunjang dan baju yang nyaman (tentunya bagus
secara fashion). Lakukan peregangan badan. Lakukan pemijatan. Beli
bantal yang empuk. Semuanya itu pantas untuk anda.

12. Sederhakan.
Prioritaskan diri anda untuk melakukan yang ada dalam daftar. Hilangkan
hal-hal yang tidak diperlukan. Cobalah untuk melihat ke belakang dan
berpura-pura menjadi manajer untuk menangani semua hal.

5 Tips Penjangkauan untuk Lajang Kristen

Tips ini membangun kualitas pribadi yang membuat orang menjadi pasangan yang lebih baik kelak : 

1. Lakukan penjangkauan terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga melalui kegiatan relawan di rumah-rumah rehabilitasi. Percayai
saya : Menunggu orang (pasanga) terbaik dari Tuhan atau menghidupi
kehidupan sebagai seorang lajang benar-benar akan kelihatan jauh lebih
menarik ketika dibandingkan dengan mereka yang mengalami kekerasan
dalam rumah tangga. Ini membangun empati yang dalam dan juga
kepedulian.

2. Relakan anda diri untuk melayani di bagian
pelayanan gereja atau memberikan perhatian pada anak-anak teman. Atau
menjadi sponsor dan berkorespondensi dengan anak-anak diseluruh dunia
melalui misi Kristen yang menjangkau dunia.
Bekerja dan
berkorespondensi dengan anak-anak menjadikan kita keluar dari
komplikasi orang dewasa. Itu juga memberikan orang-orang kesempatan
untuk belajar bagaimana untuk mempedulikan masa depan anak-anak atau
mengasihi anak-anak secara emosional, spiritual, dan kebutuhan
fisiknya. Tetap “terlatih” dengan anak-anak adalah kemampuan yang tak
ternilai baik untuk pria atau wanita dewasa.

3. Hiburlah
penghuni rumah jompo atau yatim dengan nyanyian, bacaan, permainan atau
menyumbang pada keberadaan orang lain. Hal ini selalu memberikan
perspektif yang baru.
Hal ini mengajar orang tentang ketangkasan
hidup dan nilai penting kehidupan bagi Tuhan – apakah dia seorang
lajang atau menikah; tua atau muda. (Kita yang lajang merasa lebih muda
dan merdeka ketika kita mengunjungi orang yang lebih tua yang memanggil
kita dengan sebutan ”nak”). Sebagai tambahan, hal ini akan menyiapkan kita untuk tahap kehidupan masa depan.   

4. Jangkau para janda tua dan duda di gereja anda.
sebagai lajang, kita tahu perasaan kehilangan seseorang yang belum
pernah kita temui. Bayangkan rasa sakit kehilangan seseorang. Kenalkan
diri kita pada mereka, maka dukacita mereka akan meringankan beban
penantian kala menanti seorang yang kita cintai. Kumpulkan hal itu
sekarang dan sadari bahwa Surga hanya berada sekeliling arena kita
untuk menjaga perspektif kita tetap sehat dan tetap terjaga.

5. Ambil bagian dalam pelayanan kabar baik. Fokus
pada kenyataan bahwa, tidak masalah apakah kita menikah atau tidak,
adalah amat penting bagi kita untuk membagikan kabar baik tentang
Yesus. Kesendirian tidak pernah melemahkan kemampuan kita untuk
membagikan isi hati kita tentang Yesus. Pada kenyataannya, kita tahu
seperti apa menunggu dan mengharapkan pasangan masa depan kita. Marilah salurkan “hasrat hati” kita menjadi “hati yang menginspirasi” untuk menerima Yesus.    (nat)

                              

Sumber: Stacie Ruth Stoelting - CBN

Jangan Mudah Menyakiti Anak

Saturday, June 9th, 2007

Jangan Mudah Menyakiti Anak
JAWABAN.com
- Kekerasan pada anak belakangan ini kian marak diberitakan media massa
nasional. Para pelaku yang kemudian mendapat tindakan hukum nyaris
sebagian besar adalah orang-orang terdekat anak yang menjadi korban,
bahkan tak jarang adalah orangtuanya sendiri. Tak hanya secara fisik
anak-anak tersebut mengalami penderitaan, namun dampak psikis tentunya
tak kalah hebat mendera para korban. Tentunya, fakta yang ada ini
terasa sangat tragis dan ekstrem bagi umumnya orangtua. Tapi,
hati-hati, jika orangtua tak pandai menahan emosi dan menghadapi anak,
orangtua bisa tergolong melakukan kekerasan pada anak walaupun bukan
termasuk tindakan kriminal.

Psikolog
dari Pusat Krisis Universitas Indonesia (UI), Dini P Daengsari,
menjelaskan, kekerasan pada anak dalam kehidupan rumah tangga biasanya
dilakukan sebagai bentuk hukuman dari orangtua. �Seringkali orangtua
tidak bermaksud demikian namun dalam menerapkan pola disiplin pada anak
terkadang mereka menyakitinya secara fisik juga emosional secara
verbal,� katanya. Dini membagi bentuk kekerasan pada anak menjadi dua,
yaitu secara fisik dan non fisik. Kekerasan secara fisik yang
sering tak sadar dilakukan orangtua seperti mencubit, memukul atau
mendorong karena anak dinilai telah melakukan hal yang salah atau tidak
sesuai dengan keinginan orangtua. Hal ini dapat menyebabkan anak secara
fisik terluka. Kedua, secara non fisik seperti membentak atau
memberi label negatif pada anak. Dibalik perlakuan tersebut sebenarnya
orangtua ingin memberitahukan konsekuensi atas kesalahan yang dibuat
anak melalui hukuman yang bentuknya terkadang mengandung unsur
kekerasan. Namun. Jelas Dini, hukuman secara nonfisik ini bisa lebih
berdampak serius karena dapat mempengaruhi perkembangan emosi anak
untuk selanjutnya.

Sedangkan, psikolog pendidikan dan perkembangan anak, Dr Seto Mulyadi,
Msi,
mengatakan tindak kekerasan pada anak adalah setiap tindakan yang
menimbulkan rasa sakit secara fisik dan psikis serta membuat anak
merasa tak nyaman. ��Besar kecilnya luka yang dialami anak tergantung
pada intensitas tindak kekerasan dilakukan oleh orangtua, karakteristik
anak, dan pengalaman hidupnya,�� kata Ketua Umum Komnas Perlindungan
Anak ini.

Dini menerangkan seharusnya orangtua
mempertimbangkan dampak dari kekerasan pada anak kelak. Tak hanya
berdampak pada luka fisik saja. �Kedua jenis kekerasan ini sama-sama
berdampak buruk bagi perkembangan emosional anak,� katanya. Pertama,
akan timbul rasa benci dan dendam pada anak terhadap orangtua sehingga
menghambat kualitas hubungan orangtua-anak, serta anak akan menjauhi
atau memberontak orangtua. Kedua, perilaku orangtua yang agresif dan
kasar akan ditiru oleh anak. �Ada kemungkinan anak bisa melakukan
tindakan kekerasan di lingkungannya seperti menakut-nakuti anak yang
lebih muda usianya atau lebih lemah darinya,� tambah Dini. Seto
menjelaskan, dampak kekerasan juga akan membentuk kepribadian baru pada
anak. Misalnya anak yang mulanya ceria menjadi mudah sedih atau
sensitif. Sedangkan dampak jangka panjangnya, akan mempengaruhi
pembentukan kepribadiannya seperti agresif dan pemberontak. Selain itu
juga mempengaruhi konsep dirinya, anak akan mempersepsikan dirinya
selayaknya lingkungan melabelinya seperti jika anak sering dibilang
nakal atau bodoh, maka anak akan berperilaku sesuai dengan label
tersebut. ��Konsep diri ini akan berkembang ke arah yang negatif pada
anak,�� katanya.

Seto memaparkan, anak yang sering mendapat
perlakuan kasar dari orang-orang terdekatnya lambat laun rasa percaya
diri dan harga dirinya akan terpuruk. Sehingga dapat menghambat
kemampuan dan keberanian anak untuk mencoba hal-hal baru serta
mengembangkan minat serta potensinya. Seperti pepatah bilang, �kalah
sebelum berperang� begitu sebutannya bagi anak yang memiliki konsep
diri negatif. �Anak akan melakukan peniruan tindakan, dan berpikir
bahwa hidup harus dengan kekerasan,� ujarnya. Untuk menghindari hal
tersebut, lanjut Seto, orangtua harus mengubah cara berpikir (mind
framing) bahwa anak adalah harta miliknya. Sehingga terkadang orangtua
mengeksploitasi anak dan menganggap anak tidak memiliki hak.
��Seharusnya orangtua berpikir bahwa anak adalah titipan Tuhan yang
harus dipertanggungjawabkan. Dalam mendidik anak orangtua tak hanya
melihat hasilnya saja tapi juga prosesnya,�� paparnya.

Dini
mengatakan, oleh sebab itu sebaiknya orangtua mengenal perkembangan
kecerdasan dan psikologis anak berdasarkan usianya. Sehingga orangtua
tidak terburu-buru mencap perilaku anak dan mampu meredam emosinya jika
melihat anak melakukan penyimpangan. Misalnya, ketika usia anak 3-4
tahun merupakan masa anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan
mengeksplorasi hal-hal yang dilihatnya seperti memegang stop kontak
atau membanting barang-barang. Orangtua jangan langsung membentak,
mencap bandel atau melampias-kan emosi melalui tindakan kekerasan.
Sebaiknya beritahu bahwa tindakan tersebut tidak benar dengan kata-kata
atau bahasa tubuh tanpa dikendalikan oleh emosi. �Berikan pengertian
sesuai jangkauan pemikiran anak, tanpa harus bertindak atau berkata
kasar,� kata Dini.

Terkadang orangtua ingin menunjukkan rasa
tidak suka pada perilaku anak. Sah-sah saja, sambung Dini, namun harus
dilakukan dengan tidak mengikuti emosinya sebagai bentuk ekspresi saja
atau sinyal saja, seperti memukul pantat atau menyentil tangannya
dengan lembut terutama bagi anak yang masih terlalu kecil atau belum
dapat berkomunikasi secara verbal. Setelah itu, beritahu tindakan yang
benar atau sebaiknya anak lakukan. Mengatur perilaku anak agar sesuai
dengan aturan norma yang berlaku di suatu lingkungan tidak perlu dengan
kekerasan terutama jika anak sudah semakin besar anak sudah mampu
mengerti bila diberitahu secara verbal saja. Orangtua sebaiknya tidak
melakukan hukuman demikian terutama di hadapan teman-temannya karena
bisa menjatuhkan harga diri anak. Sebelum memarahi atau menghukum anak
sebaiknya coba telaah alasannya melakukan tindakan tersebut seperti
merebut mainan dari temannya. �Dengan mengetahui perubahan psikologis
anak, orangtua bisa memahami apa yang diinginkan dan tindakan yang
dibutuhkan oleh anak,termasuk strategi pemberian hukuman,� kata Dini.

Dini
mengatakan, ada beberapa hukuman yang bisa diberikan tanpa
dilatarbelakangi tindak kekerasan. Beberapa alternatif hukuman misalnya
dicabut haknya dalam melakukan hal yang disukainya, seperti mengurangi
jadwal menonton tv. Mengajarkan pada anak sesuatu ada konsekuensinya.
��Namun, jangan pelit juga melakukan reward sehingga anak akan lebih
jelas mengetahui hal-hal yang boleh dan tidak boleh,�� terangnya. Seto
menjelaskan, mendidik anak tidak harus dengan hukuman namun keteladanan
dan kasih sayang. Boleh saja orangtua memberi konsekuensi atas tindakan
buruk atau penyimpangan disiplin dengan cara mengurangi penghargaan
(reward), misalnya setiap anak tidur sesuai dengan jam malam maka akan
diberi tanda bintang, jika melanggar maka anak kehilangan satu bintang.
�Yang perlu dipahami, setiap penetapan disiplin dan aturan norma
memerlukan diskusi dengan anak, jadi bukan sekedar aturan orangtua
saja,�katanya.

Sebaiknya
orangtua juga mengenali kondisi emosinya saat akan menghadapi anak yang
melakukan kesalahan Tenangkan diri terlebih dulu agar orangtua bisa
mengelola emosinya ketika berhadapan dengan anak. ��Jangan sampai
nantinya orangtua bertindak tidak konsisten misal sebelumnya anak tidak
dimarahi ketika melakukan suatu tindakan yang menyimpang, namun karena
sedang emosi orangtua jadi memarahi anak,�� katanya.

Bagaimana jika tindak kekerasan sudah terjadi?
Dini
menganjurkan orangtua masih bisa memperbaikinya dengan meminta maaf dan
berbuat hal-hal yang bisa menenangkan anak, seperti memeluk atau
menyapa anak dengan kasih sayang. Ketika orangtua meminta maaf, anak
akan belajar bahwa kekerasan merupakan tindakan yang salah. Hal ini
akan mengajarkan anak membedakan mana tindakan yang benar dan yang
salah. Selain itu minta anak untuk mengingatkan orangtua.

Berikut ini beberapa contoh kasus dan cara menghadapinya:

1.Anak
menumpahkan susunya, tindakan anda: Jangan berteriak atau langsung
memukul anak. mungkin anak tidak sengaja melakukannya. Minta dia
membersihkan tumpahan itu sambil berkata �hati-hati nak�. Kemudian
berikan segelas susu lagi.

2. Jika Anda melihat anak memukul
temannya: Segera pindahkan anak dari grup mainnya. Berikan waktu
baginya untuk meluapkan emosi lalu diskusikan tindak-annya. Sebagai
hukumannya, jangan izinkan bermain kembali, sampai anak benar-benar
mengerti dan menyesal bahwa tindakannya itu salah.

3. Aduh
tangan anak tak bisa diam!: Cobalah bersikap realistis, di masa ini
anak memang memiliki rasa keingintahuan yang besar dan senang
bereks-plorasi. Namun berilah pengertian, jika piring atau gelas pecah
maka akan melukainya.

4.
Huh! Anakku tidak bisa jaga barang selalu hilang: Jika anak
menghilangkan barang akibat kecerobohannya. Anak berhak menerima
konsekuensi bahwa dia tidak akan dibelikan barang yang dihilangkan lagi
sampai anak menunjukkan rasa tanggung jawabnya.

5. Anak rewel
saat di ajak makan di retsoran atau mengunjungi arisan keluarga: Segera
asingkan anak dari lingkungan tersebut, jika anak Anda masih berusia
2-4 tahun. mungkin anak belum nyaman dengan lingkungannya. Jika sudah
lebih besar, hindari memanjakan atau memarahinya, sebaiknya beritahu
bahwa dengan tindakan yang demikian orang lain akan enggan
mengundangnya ke suatu acara.

Selain orangtua, Kak Seto
mengingatkan, anggota keluarga lainnya seperti pengasuh, tante, om atau
sepupu juga berpotensi melakukan tindak kekerasan di rumah. Sebaiknya
orangtua juga membuka dialog dengan anggota keluarga, bahwa kekerasan
dapat berakibat buruk pada anak. Jadi setiap anggota keluarga memiliki
pola berpikir yang sama, bagaimana mendidik dan mengasuh anak. Waspadai
juga lingkungan masyarakat, lanjut Seto, beri pengertian pada anak
lingkungan luar belum tentu aman. Namun jangan menakut-nakuti anak,
persenjatai anak dengan pengetahuan yang cukup seperti diperkenalkan
dengan pendidikan seks sedini mungkin untuk menghindari tindak
pelecehan seksual atau anak harus ditemani dengan teman atau orang yang
bisa dipercaya.(fis)

                              

Sumber: inspirekids